Penyuluh Umbulharjo Membentuk Karakter Trapsila, Subasita, dan Anggah-Ungguh melalui Pembelajaran Al-Qur’an.

Yogyakarta, 26 Agustus 2026 — Musholla SDN Balirejo menjadi ruang sederhana yang menyimpan makna besar. Di tempat itulah pembelajaran Al-Qur’an tidak sekadar diarahkan untuk mengenalkan bacaan dan ayat-ayat suci, tetapi juga menanamkan karakter luhur Jawa: trapsila, subasita, dan anggah-ungguh.
Kegiatan pembelajaran Al-Qur’an yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo pada 26 Agustus ini menghadirkan Ust. Khaerudin dan M. Fahmi Izzudin. Para siswa diajak memahami bahwa ilmu yang baik bukan hanya menjadikan seseorang pandai berkata-kata, tetapi juga mampu menata sikap, menghormati sesama, dan menempatkan diri dengan bijaksana.
Dalam filsafat Jawa, trapsila mengajarkan tata laku—bagaimana seseorang membawa dirinya dalam kehidupan. Sementara subasita merupakan kehalusan budi dalam bertutur dan bertindak. Adapun anggah-ungguh mengajarkan kesadaran akan unggah-ungguh sosial: kapan harus menghormati, bagaimana berbicara kepada orang lain, dan bagaimana menjaga martabat diri tanpa merendahkan sesama.
Nilai-nilai tersebut menemukan ruhnya dalam pembelajaran Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an bukan hanya untuk dilantunkan dengan lisan, melainkan untuk dihidupkan dalam perilaku. Ayat yang dibaca diharapkan menjelma menjadi akhlak; ilmu yang dipelajari diharapkan tumbuh menjadi kebijaksanaan.
Di Musholla SDN Balirejo, suasana belajar pun menjadi ruang perjumpaan antara wahyu dan budaya, antara nilai-nilai Islam dan kearifan Jawa. Anak-anak dikenalkan pada sebuah kesadaran sederhana: bahwa menjadi manusia berilmu berarti juga menjadi manusia yang tahu cara menghormati.
Sebagaimana pitutur Jawa mengajarkan, ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana—kehormatan diri tercermin dari tutur kata dan perilaku. Pesan itu sejalan dengan semangat pendidikan Al-Qur’an yang menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Kehadiran Ust. Khaerudin dan M. Fahmi Izzudin dari Penyuluh Agama Islam Umbulharjo menjadi bagian dari ikhtiar menumbuhkan generasi yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga halus dalam budi pekerti.
Sebab pendidikan sejatinya bukan sekadar membuat anak tahu, melainkan membimbing mereka agar mampu menjadi. Menjadi pribadi yang santun ketika berbicara, rendah hati ketika berilmu, hormat kepada yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta mampu menempatkan diri di tengah kehidupan bersama.
Dari sebuah musholla di lingkungan sekolah, benih-benih karakter itu ditanam. Barangkali kecil bentuknya, tetapi besar harapannya. Sebab sebagaimana filosofi Jawa tentang urip iku urup—hidup hendaknya memberi cahaya—anak-anak hari ini diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu menerangi lingkungannya dengan ilmu, iman, dan akhlak.
Dari Al-Qur’an tumbuh ilmu, dari ilmu lahir laku, dan dari laku yang baik tumbuh manusia yang beradab.[khair]



