Berita

Penyuluh KUA Mergangsan Tausiyah di Masjid Al Ikhsan Karangkunti

Yogyakarta – Penyuluh Agama Islam KUA Mergangsan, Hari Purnomo, S.Pd., kembali memberikan pengajian rutin kepada jamaah ibu-ibu di Masjid Al Ikhsan Karangkunti, Karangkajen, Brontokusuman, pada Senin (1/12/2025) sore. Dalam kajian yang berlangsung pukul 16.00–17.00 WIB tersebut, penyuluh mengupas sebuah hadits mulia yang memuat empat amalan utama sebagai jalan menuju surga.

Penyuluh membuka materi dengan menyampaikan hadits riwayat Imam Ahmad berikut:

أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Sebarkanlah salam, berikan makanan, sambunglah silaturrahim, dan shalatlah ketika manusia sedang tidur; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.”

Menebarkan Salam sebagai Tanda Kasih Sayang

Penyuluh menjelaskan bahwa salam adalah simbol kedamaian yang membawa doa keselamatan kepada sesama. Mengutip penjelasan Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, ucapan salam dapat menghilangkan permusuhan dan mempererat hubungan sosial. Karena itu, Islam melarang perilaku yang menimbulkan kebencian, sebagaimana diperingatkan dalam QS. Al-Māidah ayat 91.

Memberikan Makanan dan Menumbuhkan Kepedulian

Amalan kedua adalah memberikan makanan. Penyuluh menyampaikan hadits riwayat Imam Tirmidzi tentang keutamaan orang dermawan yang dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka.
Ia kemudian mengutip penjelasan Imam al-Ghazali bahwa sikap dermawan muncul dari hati yang yakin akan jaminan rezeki dari Allah dan tidak terlalu terpaut pada dunia yang fana.

Menjalin Silaturrahim dan Memaafkan

Selanjutnya, penyuluh membacakan hadits yang diriwayatkan Imam Hakim tentang tiga amalan yang memudahkan hisab: memberi kepada orang yang menghalangi, memaafkan yang mendzalimi, dan menyambung hubungan dengan yang memutuskan silaturrahim.
Beliau juga menyampaikan kisah dari Irsyadul ‘Ibad, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menolak duduk bersama seseorang yang memutus tali persaudaraan, hingga orang tersebut memperbaiki hubungannya dengan bibinya.

Keutamaan Shalat Malam

Amalan terakhir adalah shalat malam. Penyuluh menekankan bahwa shalat ini memiliki nilai istimewa karena dilakukan saat banyak orang tidur, sehingga lebih bersih dari sifat pamer. Nabi juga mengajarkan bahwa setelah shalat wajib, shalat malam adalah ibadah yang paling utama.

Pengajian ditutup dengan hamdallah, Penyuluh menegaskan kembali pentingnya membawa nilai-nilai kedamaian dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.[HP]