Penyuluh KUA Mergangsan TADABUR di Masjid Al Fajar Lapas Kelas IIA Yogyakarta

Yogyakarta – Penyuluh Agama Islam KUA Mergangsan, Hari Purnomo, S.Pd., melaksanakan kegiatan TADABUR–Tausyiah dan Doa ba’da Dhuhur di Masjid Al Fajar Lapas Kelas IIA Yogyakarta pada Kamis (20/11/2025). Kegiatan diawali shalat Dhuhur berjamaah, lalu dilanjutkan tadarus Surah Al-Ikhlaṣ, Al-Falaq, An-Nas, Ayat Kursi, dan doa bersama.
Dalam tausyiahnya, Penyuluh mengangkat tema shalat sebagai tempat beristirahat dari beban hidup, sebuah nilai yang sangat relevan bagi warga binaan. Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا
“Wahai Bilal, tegakkanlah shalat, dan buatlah kami beristirahat di dalamnya.”
Menurut penjelasan ulama, ungkapan “ariḥnaa bihaa” bermakna bahwa shalat menjadi tempat seorang mukmin kembali kepada Allah, meletakkan segala beban, dan merasakan ketenangan yang tidak ditemukan dalam aktivitas dunia.
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menegaskan bahwa saat seorang hamba berdiri dalam shalat dengan hati yang hadir, maka “shalat itu menjadi surga hatinya, ketenteraman jiwanya, dan saat paling membahagiakan dalam hidupnya.”
Sementara Imam Al-Ghazali Rahimahullah menjelaskan bahwa shalat menghadirkan sakinah (ketenangan), karena dalam sujud seorang hamba “meletakkan seluruh kegelisahan di hadapan Allah yang Maha Mengurus segala urusan.”
Dalam penyampaiannya, Penyuluh menekankan bahwa rasa ringan dan lapang setelah shalat merupakan tanda bahwa hati sedang dibimbing Allah. “Jika tidur malam dapat membuat tubuh segar kembali, maka shalat yang dilakukan dengan hati yang pasrah akan membuat jiwa kita lebih tenang,” ujarnya.
Penyuluh juga menjelaskan, kebijakan Lapas yang mewajibkan warga binaan mengikuti shalat berjamaah Dhuhur dan Ashar sebagai wujud kasih sayang Allah yang menghadirkan kebaikan melalui kebijakan para pemimpin. “Shalat berjamaah menjadi sebab turunnya rahmat, memperkuat persaudaraan, dan membuat beban ibadah terasa lebih ringan,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap waktu shalat adalah momentum untuk “melepaskan” beban hidup. Dengan membiasakan diri untuk memohon, mengadu, dan memasrahkan urusan kepada Allah, maka hati akan dipandu menuju ketenangan.
Acara ditutup dengan doa bersama, memohon hidayah, kekuatan untuk mengamalkan kebaikan yang sudah dipelajari, serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi kehidupan dunia dan akhirat.[HP]



