Penyuluh KUA Mantrijeron: Apa Pun Desilnya, Tetap Bersyukur dan Jauhi Judi Online

Yogyakarta (KUA Mantrijeron) — “Bapak-Ibu, kalau desilnya naik, bersyukur. Kalau desilnya turun, bagaimana?”
Pertanyaan sederhana namun mengundang senyum itu disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Mantrijeron, Fatkur Rohman, saat menyampaikan kultum ba’da Dzuhur di Masjid Ngadi Danu Manunggal, Kamis (10/9/2026).
Dengan nada bercanda, Fatkur kembali bertanya kepada jamaah, “Bapak-Ibu senang desilnya naik atau turun?” Pertanyaan tersebut langsung disambut senyum dan tawa ringan jamaah.
Fatkur kemudian menjelaskan bahwa desil 1 sampai 10 merupakan pembagian kelompok tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Istilah tersebut belakangan banyak diperbincangkan masyarakat karena adanya perubahan posisi desil pada sebagian keluarga.
“Ada yang sebelumnya desil 1 kemudian berubah menjadi desil 6, ada juga yang sebelumnya desil 10 berubah menjadi desil 3. Apa pun desil kita, mari tetap bersyukur dan menyikapinya dengan tenang,” pesannya.
Menurut Fatkur, perubahan angka dalam data sosial hendaknya tidak membuat seseorang kehilangan rasa syukur. Nikmat Allah SWT tidak hanya berupa materi atau kondisi ekonomi, tetapi juga kesehatan, keluarga, ketenteraman, kesempatan beribadah, dan nikmat iman.
Ia mengingatkan jamaah dengan firman Allah SWT dalam QS Ibrahim ayat 7 bahwa apabila manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya.
“Hari ini kita masih diberikan kesehatan, masih bisa datang ke masjid dan melaksanakan salat Dzuhur berjamaah. Itu nikmat yang luar biasa. Jangan sampai kita hanya melihat nikmat dari angka desil,” ungkapnya.
Fatkur juga mengutip QS Hud ayat 6 yang menjelaskan bahwa setiap makhluk yang bernyawa di bumi telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Menurutnya, keyakinan tersebut harus menjadi penguat bagi masyarakat untuk tetap berusaha mencari rezeki melalui jalan yang halal dan menjauhi cara-cara yang dilarang agama.
Bantuan untuk Keluarga, Bukan untuk Judi
Dalam kaitannya dengan penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Fatkur mengajak jamaah untuk saling mengingatkan agar bantuan yang diterima benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga dan peningkatan kesejahteraan.
“Bapak-Ibu yang mendapatkan bantuan PKH, mari kita sama-sama saling mengingatkan. Tidak hanya diri sendiri, tetapi juga keluarga dan tetangga agar terhindar dari judi online yang dapat menghilangkan status bantuan karena terdeteksi judi online. Jangan sampai bantuan yang seharusnya membantu kebutuhan keluarga justru digunakan untuk judi,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa judi online bukan jalan untuk mendapatkan rezeki maupun keberuntungan. Sebaliknya, judi dapat membawa kerugian dan berbagai persoalan bagi diri sendiri maupun keluarga.
Fatkur mengutip QS Al-Ma’idah ayat 90 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjauhi perjudian agar memperoleh keberuntungan.
“Allah memerintahkan kita menjauhi perjudian agar kita menjadi umat yang beruntung. Jadi, jangan mencari keberuntungan melalui judi online. Mari mencari rezeki dengan usaha yang halal, doa, dan ikhtiar,” jelasnya.
Mengajak Jamaah Tetap Rukun
Di akhir tausiah, Fatkur mengajak jamaah untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai berita dan informasi yang dapat menimbulkan keresahan serta mengganggu kedamaian masyarakat. Jamaah juga diajak untuk saling menjaga kerukunan dan mengingatkan dalam kebaikan.
“Semoga para pemimpin kita diberikan kemudahan dalam memimpin negeri ini. Kepemimpinan adalah amanah dari Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat,” tuturnya.
Usai kultum, sejumlah jamaah menyapa Fatkur dengan salam dan menyampaikan ucapan terima kasih atas tausiah yang diberikan.
“Assalamu’alaikum, Pak Penyuluh. Terima kasih sudah mengingatkan kami. Semoga kegiatan seperti ini terus berjalan,” ujar salah seorang jamaah.
Kegiatan kultum ba’da Dzuhur tersebut merupakan bagian dari upaya KUA Kemantren Mantrijeron menghadirkan penyuluhan agama yang dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, jamaah diharapkan mampu menyikapi perubahan desil dengan bijak, tetap bersyukur, menjaga keberkahan rezeki, serta bersama-sama menjauhi judi online.
KUA Kemantren Mantrijeron berharap seluruh program pembinaan dan penyuluhan keagamaan di tengah masyarakat senantiasa diberikan kemudahan, kelancaran, dan keberkahan. (Azz)



