Penyuluh KUA Gedongtengen Ajak Jamaah Jadikan Dunia Ladang Amal untuk Akhirat

Yogyakarta (KUA Gedongtengen) – Kehidupan di dunia bukan sekadar tempat untuk mencari kebahagiaan, tetapi juga kesempatan untuk menanam kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen, Asrofi, dalam pembinaan keagamaan di Majelis Taklim An Nur RW 06, Pringgokusuman, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2026).
Mengangkat tema “Dunia Tempat Menanam untuk Akhirat”, Asrofi mengajak jamaah memaknai setiap kesempatan hidup sebagai ladang untuk memperbanyak amal saleh. Kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui hal-hal besar. Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, sedekah sesuai kemampuan, membantu sesama, hingga menjaga silaturahmi merupakan bagian dari amal yang bernilai di sisi Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa harta, waktu, kesehatan, dan kesempatan yang dimiliki manusia merupakan amanah yang perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semua itu hendaknya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Seorang muslim tetap perlu bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga, dan membangun kesejahteraan hidup. Namun, semua ikhtiar itu hendaknya dilakukan melalui cara yang halal, disertai rasa syukur, serta tidak melupakan kewajiban kepada Allah SWT dan sesama manusia.
Asrofi juga mengajak jamaah memulai kebiasaan baik dari lingkungan terdekat. Menghormati orang tua, mendidik anak dengan nilai-nilai agama, menjaga kerukunan antarwarga, membantu tetangga yang membutuhkan, serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan merupakan bentuk nyata menanam kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pesan tersebut, jamaah diajak menyadari bahwa kesempatan berbuat baik tidak perlu menunggu kaya, memiliki banyak waktu, atau berada dalam keadaan sempurna. Setiap orang dapat beramal sesuai kemampuan, selama dilandasi niat yang tulus dan dilakukan dengan cara yang baik.
Pembinaan di Majelis Taklim An Nur ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Kehadiran majelis taklim di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga mendorong lahirnya perilaku yang membawa kedamaian dan manfaat bagi lingkungan.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen berupaya mendekatkan ajaran agama dengan kehidupan nyata masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai Islam tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan tercermin dalam tindakan sehari-hari.
Sebab, hidup adalah kesempatan untuk menanam, dan setiap kebaikan yang dilakukan hari ini menjadi harapan bagi kehidupan akhirat kelak.[sams]



