Penyuluh Katolik: Belajar dari Ayub, meskipun Menderita Tetap Memuliakan Tuhan

Yogyakarta (Garakat) – Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Arnoldus Suluh Dwi Candra, mengajak para lansia di UPT Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar (RPSLUT) Budhi Dharma Kota Yogyakarta untuk belajar dari Ayub, meskipun mengalami penderitaan ia tetap mampu memuliakan Tuhan, Senin (28/9/2026). Ajakan ini terinspirasi dari Kitab Ayub 1:6-22. Kitab Ayub ini mengisahkan tentang Ayub, seorang tokoh yang saleh yang hidupnya sejahtera karena diberkati Tuhan. Namun menurut iblis, kesalehan Ayub ini karena berkat Tuhan pada Ayub. Oleh karena itu, Tuhan memberi kesempatan pada iblis untuk mencobai Ayub. Dan, terjadilah yang diharapkan iblis bahwa Ayub kehilangan semua harta benda beserta seluruh keluarganya. Namum dalam kondisi seperti itu Ayub masih bisa memuji Tuhan dengan berkata,”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Dan, kisah selanjutnya Ayub dianggap salah oleh sahabat-sahabatnya karena penderitaan yang dia alami itu. Namun, Ayub tetap bertegar bahwa ia tidak melakukan hal yang berdosa di hadapan Tuhan. Pada akhir kisah, Tuhan memulihkan keadaan Ayub dan memberikannya dua kali lipat dari milik kepunyaan sebelumnya.
Melalui Kisah Ayub itu Suluh, biasa disapa, mengajak para lansia ini untuk tetap bertekun dan setia dalam apa yang sudah mereka lakukan dengan baik di dalam kesehariannya meskipun kadang ada yang tidak suka dengan apa yang mereka lakukan. “Seperti Ayub yang dianggap salah oleh sahabat-sahabatnya tetapi Ayub tetap bertahan bahwa ia tidak berdosa, demikianlah kita tetap bertahan dalam tindakan yang baik dan benar meskipun kadang kita mendapatkan “cap” tidak baik dari orang lain,” demikian Suluh menegaskan ajakannya. Pembinaan iman ini dalam bentuk ibadat Sabda diisi dengan lagu pembuka, bacaan Kitab Suci, renungan dan berbagi pengalaman iman, berdoa, dan lagu penutup. Partisipasi peserta dalam pembinaan ini totalnya 10 orang dengan rincian: 6 lansia Kristiani, 1 Penyuluh Kristen (Sumarni), 3 Penyuluh Katolik: Arnoldus Suluh Dwi Candra, Edelbertus Jara, dan Kristoforus Moses Jamwav. (asdc)



