Penyuluh Danurejan Bina Wabin Lapas ” Tiap Peristiwa Adalah Ketetapan Alloh”

Yogyakarta (Kemenag) — Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Danurejan Kota Yogyakarta, H. Sujoko Suwono, S.Ag., M.S.I., memberikan bimbingan keagamaan kepada warga binaan di Blok A Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta, Jalan Tamansiswa No. 6A, Sabtu (11/7/2026).
Kegiatan pembinaan yang berlangsung di blok dengan pengamanan khusus tersebut diisi dengan penyampaian materi keagamaan sekaligus dialog bersama warga binaan. Dalam kesempatan itu, Sujoko menerima curahan hati salah seorang warga binaan yang akan mengakhiri masa pidananya sekitar satu bulan lagi. Warga binaan tersebut mengaku diliputi kegelisahan menghadapi kehidupan setelah bebas karena kondisi keluarganya yang mengalami broken home.
Menanggapi hal tersebut, Sujoko mengajak warga binaan untuk memandang setiap peristiwa kehidupan sebagai bagian dari ketetapan Allah Swt. yang mengandung hikmah. Menurutnya, segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah sehingga setiap hamba hendaknya menerima setiap ketentuan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam pembinaannya, Sujoko juga mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam beribadah. Ia mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Al-An’am ayat 162 yang menegaskan bahwa salat, ibadah, hidup, dan mati seorang mukmin semata-mata dipersembahkan untuk Allah Swt. Karena itu, ibadah harus dilandasi keikhlasan, bukan karena kepentingan duniawi ataupun tujuan selain mengharap ridha Allah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga tingkatan dalam beribadah. Pertama, ibadah sebagai kewajiban, yaitu beribadah karena merupakan perintah Allah Swt. Kedua, ibadah sebagai kebutuhan, ketika seseorang menyadari bahwa ibadah menjadi kebutuhan rohani yang memberikan ketenangan dalam hidup. Ketiga, ibadah sebagai wujud cinta kepada Allah Swt., yakni beribadah dengan penuh kerelaan, keikhlasan, dan pengorbanan semata-mata karena kecintaan kepada-Nya.
Sebagai penutup, Sujoko menyampaikan kisah Rabi’ah Al-Adawiyah tentang konsep mahabbah atau cinta kepada Allah Swt. Melalui kisah tersebut, ia mengajak warga binaan untuk terus meningkatkan kualitas ibadah hingga mencapai tingkat keikhlasan yang sejati, yaitu beribadah semata-mata karena cinta kepada Allah, bukan hanya mengharapkan pahala ataupun karena takut terhadap siksa.
Melalui pembinaan keagamaan ini diharapkan warga binaan memiliki kekuatan spiritual, optimisme, serta kesiapan mental untuk kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pembinaan, sehingga mampu menjalani kehidupan baru dengan penuh harapan dan tanggung jawab.(Jk)


