Penyuluh Agama KUA Danurejan Bimbing Dzikir Wabin Rutan Yogyakarta

Yogyakarta (KUA Danurejan) – Penyuluh Agama KUA Danurejan Yogyakarta, H. Sujoko Suwono, S.Ag., MSI, membimbing dzikir dalam hati (dzikrullah) bagi warga binaan (wabin) Rumah Tahanan Negara Kelas II A Yogyakarta, Kamis (26/2/2026). Kegiatan pembinaan yang dilaksanakan sepekan sekali ini berlangsung di Masjid At-Taqwa Rutan, Jalan Tamansiswa No. 6 A Yogyakarta.

Dalam pembinaan tersebut, Sujoko membimbing praktek dzikir dalam hati sesuai tuntunan Qur’an Surat (QS) Al-A’rof ayat 205. Ayat tersebut menjelaskan agar menyebut nama Allah di dalam jiwa/batin dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang.
Menurut Sujoko, praktek dzikir dalam batin bukan perkara mudah karena hati manusia mudah berbolak-balik. Sujoko menjelaskan bahwa Allah memberikan solusi dengan memperbanyak istighfar dalam batin sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A’la ayat 14, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan iman)”.
“Batin kita sering dilintasi berbagai pikiran selain mengingat Allah. Solusinya, setiap muncul lintasan tersebut segera diikuti dengan istighfar di dalam batin. Walaupun belum sempat menyebut nama Allah, jika terus beristighfar, maka itu sudah termasuk keberuntungan, baik di dunia maupun akhirat”, terang Sujoko.
Secara teknis, praktek dzikir dilakukan dengan duduk bersila, posisi punggung tegak lurus antara pusat dan dada, kedua pergelangan tangan diletakkan di atas lutut, lidah menempel ke langit-langit mulut dalam keadaan tertutup, serta mata terpejam. Otot-otot kepala, pipi, dan dahi dikendorkan agar tubuh rileks.
Dzikir diawali dengan membaca Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, doa untuk kedua orang tua, Syahadatain, sholawat, dan istighfar. Selanjutnya, setiap muncul lintasan selain nama Allah dalam batin, segera diikuti dengan istighfar penuh kesadaran.
Istighfar tidak dihitung secara jumlah, melainkan dilakukan setiap kali muncul lintasan lain dalam hati. Pada akhir dzikir, nama Allah disebut dalam batin dengan penghayatan mendalam hingga seolah tidak ada lagi lintasan lain. Kemudian menarik napas, menahannya sembari membaca Al-Fatihah dalam batin semampunya, lalu ditiupkan ke telapak tangan dan diusapkan ke wajah serta bagian tubuh yang diperlukan.
Sujoko juga menegaskan bahwa jika belum mampu menyebut nama Allah dalam batin, tidak perlu khawatir. Dalam kalimat istighfar Astaghfirulloohal’adhiim terdapat Asmaul Husna Al-‘Adhiim yang berarti Yang Maha Agung.
Sujoko mengajak seluruh wabin yang hadir untuk rutin mempraktekkan metode dzikir tersebut, khususnya satu jam setelah sholat Shubuh dan satu jam setelah sholat Ashar. Menurut Sujoko, waktu pagi dan petang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, terlebih bagi wabin yang memiliki waktu lebih longgar dibanding masyarakat yang bebas di luar sana.
“Jika dzikir dalam batin sudah terbiasa, insya Allah iman akan masuk ke dalam hati, sholat menjadi lebih khusyuk, dan terhindar dari godaan syetan sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nahl ayat 98-99,” ungkap Sujoko.
Usai penyampaian materi, beberapa wabin tampak antusias berkonsultasi langsung terkait teknik pelaksanaan dzikir dalam batin tersebut. (Jk).



