Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo Hadir dalam Peringatan 14 Tahun UU Keistimewaan DIY: Memetri Jogja, Merawat Nusantara

Yogyakarta, 30 Agustus 2026 — Semangat Memetri Jogja, Merawat Nusantara menjadi ruh dalam peringatan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang digelar di depan Hamzah Batik, kawasan Malioboro, Minggu (30/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo, H. Khaerudin, S.Ag., turut hadir dan berpartisipasi sebagai tokoh agama Islam dalam doa lintas agama.
Kehadiran tersebut menjadi bagian dari ikhtiar merawat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Yogyakarta. Doa lintas agama bukan sekadar rangkaian acara, tetapi menjadi simbol bahwa perbedaan dapat dirajut menjadi kekuatan ketika setiap insan saling menghormati dan mengedepankan persaudaraan kemanusiaan.
Dalam filosofi Jawa dikenal ungkapan “Hamemayu Hayuning Bawana”—mempercantik, menjaga, dan menyelamatkan kehidupan di dunia. Nilai tersebut selaras dengan semangat Memetri Jogja, yaitu merawat warisan budaya, menjaga kerukunan, serta menumbuhkan rasa handarbeni terhadap tanah kelahiran dan Nusantara.
Yogyakarta bukan hanya sebuah tempat, tetapi juga sebuah laku kehidupan. Memetri berarti merawat dengan hati; nguri-uri berarti menjaga agar nilai luhur tidak hilang ditelan zaman. Dari Malioboro, pesan itu kembali diteguhkan: beda agama, beda budaya, dan beda latar belakang bukan alasan untuk tercerai, tetapi jalan untuk saling menguatkan.
Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo ikut mengambil bagian dalam membangun Yogyakarta yang rukun, damai, berbudaya, dan penuh toleransi, sebagaimana semangat Jogja Istimewa yang terus hidup dalam denyut masyarakat.
“Memetri Jogja, sejatiné ora mung nguri-uri warisan leluhur, nanging uga ngreksa kerukunan. Amarga Jogja kang istimewa yaiku Jogja kang bisa njaga kaendahan budaya, kamulyan budi pekerti, lan tentreming manah.”(khaer )



