Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen Bina Majelis Taklim An Nur, Ajak Jamaah Menjadi Pemenang Melawan Nafsu Amarah

Yogyakarta (KUA Gedongtengen) – Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen, Asrofi melaksanakan pembinaan keagamaan bersama jamaah Majelis Taklim An Nur RW 10 Pringgokusuman, Kamis (10/9/2026). Kegiatan pembinaan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan diikuti oleh jamaah majelis taklim dengan antusias.
Dalam kesempatan tersebut, Asrofi menyampaikan materi bertema “Di Dunia Bak Final dalam Kompetisi, Melawan Nafsu Amarah Harus Menjadi Pemenang.” Tema tersebut mengajak jamaah untuk menjadikan kehidupan dunia sebagai ruang latihan sekaligus kompetisi dalam mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsu.
Disampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar manusia bukan hanya menghadapi persoalan dari luar dirinya, tetapi juga mengendalikan gejolak dalam diri, terutama nafsu amarah. Amarah yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, mengambil keputusan secara tergesa-gesa, bahkan merusak hubungan dengan keluarga maupun sesama.
“Dalam kehidupan ini kita seperti berada di arena pertandingan. Setiap hari ada ujian, ada godaan, ada persoalan yang memancing emosi. Maka kemenangan yang sesungguhnya bukan ketika kita mampu mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita mampu mengalahkan amarah dalam diri sendiri,” pesan penyuluh.
Jamaah juga diajak memahami bahwa Islam memberikan perhatian besar terhadap kemampuan mengendalikan amarah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang kuat bukanlah mereka yang menang dalam adu fisik, melainkan mereka yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam pembinaan tersebut, jamaah diajak untuk membiasakan diri berhenti sejenak ketika mulai tersulut emosi, memperbanyak istighfar, berwudu, mengubah posisi, serta memilih diam daripada mengeluarkan ucapan yang dapat memperkeruh keadaan.
Penyuluh juga mengingatkan bahwa lingkungan keluarga menjadi tempat penting untuk mempraktikkan pengendalian amarah. Kesabaran kepada pasangan, anak, tetangga, maupun sesama jamaah merupakan bagian dari proses memenangkan pertandingan melawan hawa nafsu.
“Kalau setiap ada masalah kita langsung membalas dengan kemarahan, pertandingan kita selalu kalah. Tetapi kalau kita mampu menahan lisan, menenangkan hati, kemudian memilih kata-kata yang baik, insyaallah kita sedang mencetak kemenangan,” ungkapnya.
Kegiatan pembinaan Majelis Taklim An Nur tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pemahaman, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih sabar, tenang, dan bijaksana dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Melalui pembinaan rutin ini, KUA Gedongtengen terus berupaya menghadirkan layanan bimbingan keagamaan yang dekat dengan masyarakat. Majelis taklim menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus membangun karakter masyarakat yang santun, sabar, dan mampu menjaga kerukunan.
Karena hidup adalah kompetisi, maka jangan sampai kita kalah oleh amarah sendiri. Jadilah pemenang dengan menaklukkan hawa nafsu dan memenangkan hati dengan kesabaran.[sams]



