Pengajian Isra Mi’raj MAN 1 Yogyakarta: Salat sebagai Benteng Moral di Era Modern

Yogyakarta (MAN 1 Yogyakarta) — Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, MAN 1 Yogyakarta menggelar pengajian bertema “Menjadikan Salat sebagai Benteng Moral di Era Modern”, Senin (19/1/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh civitas akademika MAN 1 Yogyakarta dan dilaksanakan di Masjid Al-Hakim mulai pukul 07.00 hingga 08.00 WIB.
Pengajian menghadirkan penyuluh agama Islam Kota Yogyakarta, Ustaz H. Charis Thohari Rahman, S.Sy., S.Th.I., M.S.I. Acara diawali dengan pembacaan tilawatil Qur’an oleh Abdulrahman Ramadhan.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, H. Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memiliki kedudukan istimewa karena menjadi momentum diturunkannya perintah salat secara langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat.
“Secara kasat mata, pembeda antara orang beriman dan tidak beriman adalah salatnya. Melalui peringatan Isra Mi’raj ini, mari kita introspeksi: apakah salat kita sudah benar, tepat waktu, berjamaah, dan dilaksanakan di masjid. Insyaallah, setinggi apa pun cita-cita ananda akan dimudahkan Allah jika salatnya semakin baik,” ujarnya.
Dalam tausiyahnya, Ustaz H. Charis Thohari Rahman menguraikan hikmah Isra Mi’raj dengan berbagai ilustrasi yang kontekstual dengan kehidupan modern. Ia menekankan bahwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa gaib yang wajib diimani oleh setiap muslim.
“Beriman kepada Isra Mi’raj merupakan bagian dari keimanan. Setiap mukmin pasti muslim, tetapi tidak semua muslim telah mencapai derajat mukmin, karena iman mencakup amalan hati yang paling dalam,” jelasnya seraya mengutip QS. Al-Hujurat ayat 14.
Ia juga mengisahkan beratnya ujian keimanan para sahabat pada awal peristiwa Isra Mi’raj, termasuk tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW menggunakan Buraq, kendaraan istimewa yang digambarkan dalam berbagai hadis sahih sebagai makhluk putih bersayap dengan kecepatan luar biasa.

Lebih lanjut, Ustaz Charis menyampaikan sejumlah hikmah utama dari peristiwa Isra Mi’raj, di antaranya menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas, adanya keterkaitan antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa, penguatan hujjah kenabian Muhammad SAW, serta ditetapkannya kewajiban salat lima waktu.
Menurutnya, salat yang benar dan berkualitas akan menjadi benteng moral yang kokoh. Ia mengingatkan bahwa salat yang dilakukan dengan lalai tidak akan memberikan dampak positif dalam kehidupan.
“Salat yang sempurna adalah salat yang memenuhi rukun dan syarat sah, dilakukan tepat waktu, serta dilaksanakan dengan khusyuk. Salat yang khusyuk mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah, ‘Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar’,” tegasnya.
Ia juga menguraikan bentuk-bentuk kelalaian dalam salat, seperti meninggalkan salat, mengakhirkan waktu salat tanpa alasan, tidak memenuhi syarat dan rukun, serta salat yang tidak membekas dalam perilaku sehari-hari.
Pengajian Isra Mi’raj ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran seluruh peserta didik dan civitas MAN 1 Yogyakarta untuk terus memperbaiki kualitas salat sebagai fondasi pembentukan karakter dan moral di tengah tantangan era modern. (wk)


