Pembinaan Iman Di Manna Kampus Penyuluh Katolik; Mari Kita Peka Terhadap Suara Tuhan

Yogyakarta (Garakat), Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta, Edelbertus Jara melaksanakan pembinaan iman kepada para Staff dan Karyawan Karyawati Kristiani (15 Orang) di Manna Kampus Jl. C. Simanjuntak No. 70, Terban, Yogyakarta pada Kamis 23/7/2026. Pembinaan iman dikemas dalam suatu Ibadat Sabda dengan Inspirasi Firman Tuhan diambil dari Injil Mateus 13:10-17.
Para murid bertanya kepada Yesus mengapa Ia mengajar orang banyak dengan perumpamaan? Yesus menjelaskan bahwa perumpamaan bukan sekadar cerita, tetapi sarana untuk membuka hati orang yang sungguh mencari Allah. Mereka yang mau mendengarkan dengan iman akan semakin memahami Kerajaan Allah, sedangkan mereka yang menutup hati akan tetap ada dalam kebingungan.
Yesus mengutip nubuat Nabi Yesaya: “Sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.” Masalahnya bukan karena Tuhan tidak mau menyatakan diri-Nya, melainkan karena hati manusia sering kali menjadi keras. Kesibukan, kesombongan, dosa, dan sikap merasa sudah tahu dapat membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.
Sebaliknya, Yesus berkata kepada para murid: “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Kebahagiaan sejati bukan hanya karena melihat mukjizat Yesus, tetapi karena mereka memiliki hati yang terbuka untuk percaya dan mengikuti-Nya. Banyak nabi dan orang benar di Perjanjian Lama merindukan kedatangan Mesias, tetapi para murid mendapat anugerah untuk hidup bersama-Nya.
Sabda ini juga menjadi ajakan bagi kita. Setiap hari kita mendengar Firman Tuhan dalam Ekaristi, membaca Kitab Suci, dan mengalami penyelenggaraan-Nya dalam hidup. Namun, apakah hati kita sungguh terbuka? Jangan sampai kita hanya mendengar tanpa melaksanakan, atau melihat karya Tuhan tanpa bersyukur. Firman Tuhan akan menghasilkan buah apabila kita mendengarkan dengan iman, merenungkannya, lalu mewujudkannya dalam kasih kepada sesama.
Di tengah dunia yang penuh informasi dan kebisingan, kita dipanggil untuk memiliki telinga yang peka terhadap suara Tuhan dan mata yang mampu melihat karya-Nya dalam peristiwa-peristiwa sederhana. Orang yang memiliki hati yang terbuka akan menemukan bahwa Tuhan selalu hadir, membimbing, dan menyertai langkah hidupnya. Demikian Edelbertus dalam renungannya di hadapan peserta. (ej)



