Menyongsong HUT RI ke 81; Penyuluh Katolik Sosialisasi Tokoh Inspirasi Romo YB Mangun Wijaya

Yogyakarta (Garakat) Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta Edelbertus Jara, S. Fil., melaksanakan sosialisasi Ajaran Sosial Gereja (ASG) dengan tema: Katekese Kebangsaan Agustus 2026: Belajar Menjadi Katolik dan Indonesia dari Romo Y.B. Mangunwijaya pada hari Minggu, 9/8/2026 melalui siaran RRI Pro 4 Yogyakarta.
Setiap bulan Agustus kita merayakan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai umat Katolik, kita bersyukur atas anugerah kemerdekaan sekaligus menyadari bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah, melainkan panggilan iman untuk ikut membangun bangsa, menjaga persaudaraan, menghormati martabat manusia, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan bersama.
Kita dapat belajar dari Romo Y.B. Mangunwijaya, seorang imam, arsitek, sastrawan, pendidik, budayawan, sekaligus pembela rakyat kecil. Semua karya dan perjuangannya bersumber dari iman kepada Kristus. Pengalaman hidupnya pada masa penjajahan dan perjuangan kemerdekaan membuatnya menyadari bahwa iman tidak boleh menjauhkan kita dari persoalan bangsa. Sebaliknya, iman harus mendorong kita untuk hadir, mendengarkan, dan melayani.
Tema “Setiap Orang Ada Zamannya” mengingatkan kita bahwa setiap zaman memiliki tantangan sendiri. Romo Mangun menghadapi perang dan perjuangan kemerdekaan, sedangkan kita menghadapi individualisme, hoaks, ujaran kebencian, korupsi, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan lunturnya persaudaraan. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita bukan hanya “Apa tantangan zaman ini?”, tetapi “Apa yang Tuhan kehendaki saya lakukan pada zaman ini?”
Dalam Injil Matius 5:13–16, Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia.” Iman tidak cukup hanya diwujudkan dalam doa dan perayaan Ekaristi. Iman harus menjadi nyata di rumah, tempat kerja, sekolah, lingkungan, masyarakat, dan media sosial. Bagi Romo Mangun, iman berarti hadir ketika sesama membutuhkan, mau mendengarkan, membela keadilan, serta menghormati martabat manusia.
Romo Mangun juga mengajarkan bahwa mencintai Indonesia berarti mencintai manusia Indonesia, terutama mereka yang kecil dan tersingkir. Perjuangannya bersama masyarakat Kali Code, warga Kedung Ombo, dan anak-anak melalui pendidikan menunjukkan bahwa orang miskin bukan objek belas kasihan, melainkan pribadi yang memiliki martabat. Inilah semangat Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25–37): berhenti, melihat, mendekat, dan menolong.
Hari ini kita dipanggil menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia. Cinta tanah air tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera atau mengikuti upacara. Cinta tanah air harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menjaga kerukunan dengan tetangga, menghargai perbedaan, aktif dalam kehidupan masyarakat, menghindari ujaran kebencian, membantu mereka yang kesulitan, merawat lingkungan, serta mendidik keluarga dalam kejujuran dan kasih.
Romo Mangun mengajarkan bahwa iman kepada Kristus tidak bertentangan dengan cinta kepada Indonesia. Justru karena beriman kepada Kristus, kita dipanggil semakin mencintai dan membangun bangsa ini. Marilah kita mengisi kemerdekaan bukan hanya dengan perayaan, tetapi dengan pelayanan; bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan; bukan hanya dengan kebanggaan sebagai warga negara, tetapi dengan tanggung jawab sebagai murid Kristus.
Semoga kita sungguh menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia: menghadirkan kasih, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. (ej)



