Menjaga Kemabruran Haji dalam Bingkai Filsafat Islam: Penyuluh Umbulharjo Ajak Jamaah Maknai Ibadah Secara Mendalam

Yogyakarta — Penyuluh Agama Islam Umbulharjo, H. Khaerudin, S.Ag., memberikan pengajian kepada jamaah haji ALBHA 2025 dengan pendekatan filsafat Islam yang menekankan makna terdalam dari setiap rangkaian ibadah haji sebagai jalan penyempurnaan diri.
Dalam pemaparannya, haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik menuju Baitullah, tetapi sebagai safar ilahiyah—perjalanan eksistensial manusia untuk kembali kepada fitrah tauhid. Haji dipahami sebagai proses pulang dari keterikatan dunia menuju kesadaran akan kehadiran Allah dalam seluruh dimensi kehidupan.
Khaerudin menjelaskan, tawaf merupakan simbol orbit kehidupan. Sebagaimana manusia mengelilingi Ka’bah, seluruh gerak hidup sejatinya harus berporos kepada Allah. Sementara sa’i merepresentasikan ikhtiar tiada henti, meneladani kegigihan Siti Hajar dalam mencari sumber kehidupan, bahwa harapan harus terus dijaga melalui kesabaran dan usaha.
Lebih lanjut, wukuf di Arafah dimaknai sebagai puncak kontemplasi, momentum kesadaran diri di mana manusia berhenti sejenak untuk mengenali hakikat dirinya sebagai hamba yang fana dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Kekal. Bermalam di Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan serta pengendalian diri, sedangkan lempar jumrah menjadi simbol perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan syaitan dalam kehidupan.
Adapun tahallul dimaknai sebagai pelepasan ego, sebuah transformasi dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari keterikatan dunia menuju kebebasan spiritual.
Dalam kajian tersebut ditegaskan bahwa menjaga kemabruran haji berarti menjaga kesadaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari, yang tercermin dalam akhlak mulia, kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan. Dengan demikian, haji mabrur bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal kehidupan yang lebih tercerahkan dalam naungan nilai-nilai Ilahiah. (khaer)



