Mendapat Hidayah di Balik Jeruji

Yogyakarta (KUA Umbulharjo) – Di balik kokohnya tembok dan dinginnya jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Wirogunan Yogyakarta, cahaya hidayah tetap menemukan jalannya. Sebab sesungguhnya, yang membelenggu manusia bukan hanya jeruji yang tampak oleh mata, tetapi juga hati yang jauh dari Tuhannya.
Suasana penuh khidmat terasa dalam kegiatan pembinaan keagamaan yang berlangsung di Rutan Wirogunan, Kamis (25/6/2026). Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibaca bersama oleh para warga binaan mengawali rangkaian kegiatan. Tadarus Al-Qur’an menghadirkan ketenangan dan menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka bagi siapa saja.
Setelah arahan dari pembina rutan, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo, Khaerudin. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para warga binaan untuk memaknai datangnya Bulan Muharam sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
Menurutnya, setiap manusia memiliki masa lalu dan pernah melakukan kesalahan. Namun, Allah SWT senantiasa membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada jalan kebenaran.
“Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Masa lalu boleh saja kelam, tetapi masa depan masih ditulis dengan tinta takdir yang bisa dihiasi dengan taubat, doa, dan amal saleh,” pesan Khaerudin.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan keutamaan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharam. Amalan sunnah tersebut menjadi salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan Rasulullah SAW dan mengandung keutamaan besar, yakni sebagai sebab dihapuskannya dosa-dosa setahun yang telah berlalu.
Pesan tentang ampunan dan kasih sayang Allah itu tampak menyentuh hati para jamaah. Mereka mengikuti pengajian dengan penuh perhatian dan kesungguhan, menjadikan majelis ilmu tersebut sebagai ruang refleksi dan penguatan spiritual.
Suasana haru semakin terasa ketika doa bersama dipanjatkan di penghujung acara. Tangan-tangan terangkat memohon ampunan, keberkahan, dan kemudahan hidup. Doa-doa juga dipersembahkan untuk orang tua, pasangan, anak-anak, serta keluarga yang setia menanti kepulangan mereka.
Melalui kegiatan pembinaan keagamaan ini, para warga binaan diajak untuk terus menumbuhkan harapan dan semangat memperbaiki diri. Bulan Muharam dijadikan momentum untuk membuka lembaran baru kehidupan dengan memperkuat keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Di balik jeruji itu, harapan ternyata masih tumbuh. Hidayah tidak mengenal batas ruang dan waktu. Ia hadir menyapa siapa saja yang membuka pintu hatinya. Dan pada pagi yang penuh berkah tersebut, cahaya hidayah kembali menerangi langkah-langkah mereka yang sedang berjuang menata hidup, agar kelak kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah SWT.[khaer]


