Memayu Hayuning Bawana, Menemukan Jalan Pulang di Rutan Wirogunan

Yogyakarta (Penyuluh Umbulharjo) — Filosofi Jawa “Memayu Hayuning Bawana” menjadi tema pengajian dan pembinaan keagamaan bagi warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Yogyakarta, Wirogunan, Kamis (20/8/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Masjid At-Taqwa Rutan Wirogunan.
Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Umbulharjo, Khaerudin, S.Ag., mengajak warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi, memperkuat keimanan, dan memperbaiki diri.
Menurut Khaerudin, “Memayu Hayuning Bawana” mengandung pesan agar manusia senantiasa menjaga kebaikan, keharmonisan, dan kemanfaatan dalam kehidupan. Perubahan, menurutnya, dimulai dari keberanian melihat ke dalam diri, mengakui kesalahan, serta membangun tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi akhir perjalanan. Selama masih diberikan kesempatan hidup, selalu ada jalan untuk kembali, memperbaiki diri, dan berbuat baik,” pesannya.
Ia juga mengaitkan filosofi tersebut dengan pitutur Jawa “Urip iku urup”, yang mengandung makna bahwa hidup hendaknya mampu memberikan cahaya dan manfaat bagi orang lain. Bagi warga binaan, perjuangan tersebut dapat diwujudkan dengan memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, meninggalkan kebiasaan buruk, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
“Tidak ada manusia yang selesai hanya karena masa lalunya. Selama masih ada hari esok, selalu ada kesempatan untuk menulis halaman baru,” tuturnya.
Kegiatan pembinaan keagamaan tersebut menjadi ruang permenungan bagi warga binaan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari belenggu fisik, tetapi juga mampu membebaskan hati dari dendam, keputusasaan, kesombongan, dan perilaku buruk.
Melalui pembinaan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan, warga binaan diharapkan mampu menemukan kembali arah hidupnya. Dengan demikian, ketika kembali ke masyarakat, mereka dapat hadir sebagai pribadi yang lebih baik, bermanfaat bagi keluarga, serta turut menjaga kebaikan dan keharmonisan lingkungan.
“Memayu Hayuning Bawana” pada akhirnya bukan sekadar filosofi, tetapi sebuah ajakan untuk merawat kehidupan. Perubahan itu selalu dapat dimulai dari satu langkah sederhana: merawat hati dan memperbaiki diri. (Khaer)



