Berita

Kultum Bada Asar di Musala Al Ikhlas, Ariadi Sampaikan Empat Hal yang Disukai Istri dari Suami

Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Gedongtengen, Ariadi, memberikan tausiah dalam kegiatan kuliah tujuh menit (kultum) bada Asar di Musala Al Ikhlas, Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Senin (2/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ariadi mengangkat tema unik dan menarik tentang “Empat Hal yang Disukai Wanita terhadap Suami: Besar, Panjang, Keras, dan Durasi Lama.”

Tema tersebut mengundang rasa penasaran sekaligus menjadi pintu masuk untuk menyampaikan pesan-pesan tentang kehidupan rumah tangga. Dengan pendekatan komunikatif dan bahasa yang ringan, Ariadi mengajak jamaah memahami bahwa keharmonisan keluarga tidak hanya dibangun melalui kata-kata manis, tetapi juga melalui sikap, tanggung jawab, dan konsistensi suami dalam menjalankan perannya.

Ariadi menjelaskan bahwa empat istilah tersebut dapat dimaknai secara positif dalam kehidupan berumah tangga.

Pertama, besar hatinya. Seorang suami hendaknya memiliki hati yang lapang, mampu bersabar, memaafkan kekurangan pasangan, serta tidak mudah terpancing emosi ketika menghadapi persoalan rumah tangga. Kebesaran hati juga tercermin dari kesediaan untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Kedua, panjang pikirannya. Suami perlu memiliki pandangan yang jauh ke depan dalam membina keluarga. Tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika marah, mampu mempertimbangkan dampak tindakannya, serta memikirkan masa depan istri dan anak-anaknya.

Ketiga, keras pendiriannya. Keras yang dimaksud bukanlah keras dalam berbicara, apalagi bersikap kasar kepada istri. Sebaliknya, suami harus teguh dalam memegang prinsip kebaikan, menjaga komitmen pernikahan, bertanggung jawab terhadap keluarga, serta konsisten menjalankan ajaran agama.

Keempat, durasi lama kesabarannya. Kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada perbedaan pendapat, persoalan ekonomi, dan berbagai ujian kehidupan. Karena itu, suami perlu memiliki kesabaran yang panjang, tidak mudah menyerah, serta terus berusaha menjaga komunikasi dan keharmonisan bersama pasangan.

Dalam tausiahnya, Ariadi juga mengingatkan bahwa hubungan suami istri hendaknya dibangun atas dasar kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab bersama. Suami bukan sekadar kepala keluarga, melainkan juga pasangan yang harus mampu memberikan rasa aman, perhatian, dan keteladanan.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21, yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman dan menjadikan kasih sayang serta rahmat sebagai landasan kehidupan berumah tangga.

Melalui kultum bada Asar ini, Ariadi berharap jamaah dapat mengambil hikmah bahwa menjadi suami yang baik bukan hanya tentang kemampuan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tentang kematangan emosi, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, keteguhan dalam kebaikan, dan kesabaran dalam mendampingi pasangan.

Kegiatan kultum di Musala Al Ikhlas menjadi salah satu sarana untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus menanamkan nilai-nilai keluarga sakinah di lingkungan Kementerian Agama Kota Yogyakarta.

“Rumah tangga yang harmonis tidak dibangun oleh kesempurnaan suami atau istri, tetapi oleh dua hati yang terus belajar memahami, menghargai, dan saling memperbaiki diri,” menjadi pesan yang relevan untuk direnungkan bersama.

Melalui kegiatan pembinaan keagamaan seperti ini, Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen terus berupaya menghadirkan dakwah yang komunikatif, membumi, dan dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat.[sams]

Leave a Reply