Khutbah Nikah Penghulu KUA Mantrijeron: Rumah Tangga Ibarat Pepohonan yang Saling Berhimpit

YOGYAKARTA – Di tengah suasana syahdu, pasangan Ruly Iqtada Rusli dan Yuna Kisvana Kartika resmi memulai perjalanan hidup baru mereka. Prosesi akad nikah yang digelar di Hotel Lynn, Mantrijeron, Yogyakarta pada Sabtu (10/01/2026) tidak hanya menjadi ajang perayaan cinta, tetapi juga ruang refleksi mendalam melalui khutbah nikah yang disampaikan oleh Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I.
Dalam khutbahnya, Mu’inan mengutip pemikiran ulama masyhur Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in dengan metafora yang sederhana namun sarat makna: tanakahatil asyjaru idza tamayalat. Pernikahan diibaratkan seperti pepohonan yang tumbuh berdampingan dan saling berhimpit.
Secara filosofis, analogi tersebut menggambarkan bahwa dua pribadi yang berbeda—dengan latar belakang, ego, dan karakter masing-masing—akan menghadapi gesekan ketika diterpa berbagai ujian kehidupan. Semakin dekat dua pohon tumbuh berdampingan, semakin besar kemungkinan ranting dan dahannya saling bersentuhan saat angin berembus.
“Pepohonan yang saling berdekatan mustahil tidak bersentuhan saat tertiup angin. Begitu pula rumah tangga; gesekan atau percekcokan bukanlah tanda kegagalan, melainkan konsekuensi alami dari kedekatan dua jiwa dan melodi perjuangan untuk tetap berdiri tegak berdampingan hingga akhir hayat,” tutur Mu’inan dengan penuh khidmat.
Pesan tersebut diperkuat dengan rujukan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 35 pada penggalan ayat fain khiftum syiqaqa bainihima. Menurut Mu’inan, ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa konflik atau syiqaq dalam rumah tangga merupakan kemungkinan yang telah dipetakan sejak awal kehidupan berpasangan.
Melalui pesan itu, pasangan pengantin diajak untuk tidak terjebak dalam ekspektasi tentang “pernikahan tanpa cela”. Keharmonisan rumah tangga, menurutnya, bukan terletak pada ketiadaan masalah, melainkan pada kemampuan pasangan dalam menyikapi setiap perbedaan dan menyelesaikan gesekan dengan bijaksana.
Prosesi akad nikah yang berlangsung khidmat tersebut diakhiri dengan doa bersama. Para tamu berharap agar setiap “gesekan” yang kelak hadir justru semakin menguatkan akar pernikahan Ruly dan Yuna, layaknya pohon yang semakin kokoh karena terbiasa menghadapi terpaan angin. (m.uin.@n)



