Khotmil Qur’an Hari Santri 2026, Teguhkan Islam Moderat dan Cinta Tanah Air

Yogyakarta (KUA Mergangsan) – Kepala KUA Kemantren Mergangsan, Dr. Jaenal Sarifudin, S. H. I., M. S. I., bersama perwakilan penyuluh agama Islam menghadiri kegiatan Khotmil Qur’an dan Pengajian dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 di Aula 1 Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut dihadiri para pejabat Pemerintah Kota Yogyakarta, jajaran Kemenag Kota Yogyakarta, kepala KUA se-Kota Yogyakarta, perwakilan penyuluh agama, serta tamu undangan lainnya. Suasana semakin semarak dengan penampilan tim hadroh Penyuluh Agama Islam Kota Yogyakarta (Mahabatur Rosul).
Dalam pengajian, Drs. KH. Maskur Ashari, M.A., penghulu yang pernah menjabat sebagai Kasi Bimas Islam Kemenag Kota Yogyakarta, mengingatkan pentingnya memahami empat identitas yang melekat pada diri seseorang, yaitu sebagai orang Islam, orang Indonesia, orang Jawa, dan bagian dari keluarga besar Kementerian Agama.
Menurut beliau, kesadaran terhadap keempat identitas tersebut dapat membentuk pribadi muslim yang moderat, mampu menjalankan ajaran Islam dengan baik sekaligus menghargai kearifan lokal.
Menjadi muslim yang taat tidak berarti harus meninggalkan budaya yang baik. Nilai-nilai Islam dapat berjalan selaras dengan budaya setempat selama tidak bertentangan dengan ajaran agama. Sikap santun, menghormati sesama, menjaga kerukunan, dan merawat persatuan merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi penyuluh agama Islam untuk terus menghadirkan dakwah yang menyejukkan, mudah dipahami, serta dekat dengan kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan Khotmil Qur’an dan Pengajian ini, peringatan Hari Santri Nasional 2026 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” diharapkan semakin memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, pengamalan nilai-nilai agama, dan komitmen menjaga persatuan bangsa.
Dengan demikian, semangat santri tidak hanya tercermin dalam kecintaan terhadap ilmu agama, tetapi juga dalam akhlak mulia, penghargaan terhadap kearifan lokal, dan pengabdian nyata bagi masyarakat dan bangsa.(HP)



