Artikel

Ketika “Cukup” Tak Lagi Cukup

Ada saatnya “cukup” tidak lagi terasa cukup. Kita ingin lebih unggul, lebih dikenal, lebih dipercaya, lebih berpengaruh. Keinginan untuk maju tentu bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika keinginan untuk menjadi lebih baik membuat kita merasa orang lain harus menjadi lebih buruk.

 

Di situlah keserakahan mulai bekerja. Bentuknya tidak selalu kasar dan terang-terangan. Kadang ia hadir begitu halus: menyimpan informasi agar orang lain tidak berkembang, menutup kesempatan, tidak berbagi pengetahuan, menjatuhkan secara perlahan, atau membuat orang lain terlihat kurang baik agar diri sendiri tampak lebih unggul.

 

Kita mungkin tidak merasa sedang menzalimi. Namun jika keberhasilan kita dibangun di atas kerugian orang lain, bukankah ada sesuatu yang perlu kita pertanyakan? Allah mengingatkan:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝١

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”

(QS. At-Takatsur: 1)

 

Dalam Tafsir al-Maraghi, at-takatsur menggambarkan manusia yang sibuk berlomba memperbanyak dan membanggakan apa yang dimiliki hingga lalai dari tujuan hidup yang sebenarnya.

 

Persoalannya bukan sekadar memiliki banyak, tetapi ketika perlombaan itu menguasai hati dan membuat seseorang tidak lagi peduli kepada yang lain. Hari ini, takatsur bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus, saya harus terlihat paling baik, saya harus lebih tahu, saya harus lebih cepat, dan yang lain tidak boleh melampaui saya.

 

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa ada orang yang tampak membawa banyak amal, tetapi ternyata bangkrut di akhirat. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟

قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.

“Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang setelah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada mereka. Jika kebaikannya telah habis sebelum kezalimannya selesai, dosa-dosa mereka diberikan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

 

Hadis ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak.

 

Sebab kezhaliman tidak selalu berupa kekerasan yang terlihat. Ada kezhaliman yang begitu halus hingga pelakunya merasa tidak melakukan apa-apa hak yang sengaja tidak diberikan, informasi yang sengaja disimpan, kesempatan yang sengaja ditutup, atau orang lain yang sengaja dibuat tidak berkembang agar kita terlihat lebih unggul.

 

Tidak ada yang tahu? Mungkin. Tidak ada yang menegur? Bisa jadi. Tetapi Allah tahu siapa yang dirugikan. Maka sebelum bertanya, “Seberapa tinggi saya sudah mencapai?”, mungkin kita perlu bertanya:

“Siapa yang saya korbankan untuk sampai ke sana?”

Menjadi hebat tidak harus membuat orang lain kecil. Menjadi unggul tidak harus membuat orang lain kalah. Mendapatkan lebih banyak tidak seharusnya membuat kita kehilangan rasa adil.

Sebab jangan sampai kita sibuk mengumpulkan pencapaian di dunia, tetapi sekaligus mengumpulkan hak orang lain yang harus kita bayar dengan pahala di akhirat.

 

Barangkali tanda bahwa “cukup” telah hilang bukan ketika kita memiliki terlalu banyak, tetapi ketika kita mulai merasa orang lain tidak penting selama kita terlihat lebih baik. Wallahu a’lam.

Leave a Reply