Jangan Menikah karena 3R dan 1B, Menikahlah karena Allah

Yogyakarta (KUA Wirobrajan) – Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua hati. Di dalamnya ada iman, tanggung jawab, komitmen, dan perjalanan panjang untuk saling menjaga. Karena itu, calon pengantin perlu memastikan bahwa alasan menikah bukan hanya karena rupa, raga, rasa, ataupun harta.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan Eko Agus Wibowo, S.Sos.I., saat memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada calon pengantin di Balai Nikah KUA Wirobrajan, Kamis (17/9/2026).
“Jangan menikah hanya karena 3R: rupa, raga, dan rasa, serta 1B: banda atau harta. Menikahlah karena Allah,” pesan Eko kepada calon pengantin.
Menurutnya, rupa dapat berubah, raga dapat melemah, rasa bisa mengalami pasang surut, sementara harta dapat datang dan pergi. Namun, ketika pernikahan dibangun atas dasar iman dan ketundukan kepada Allah, pasangan memiliki pijakan untuk tetap bertahan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Dalam suasana dialogis, Eko mengajak calon pengantin tidak hanya mempersiapkan pesta pernikahan, tetapi juga mempersiapkan diri memasuki kehidupan setelah akad.
Pembahasan mencakup tujuan pernikahan, hak dan kewajiban suami-istri, hingga tanggung jawab orang tua dalam mendampingi dan mendidik anak.
“Yang perlu dipersiapkan bukan hanya hari akadnya, tetapi kehidupan setelah akad. Karena setelah ijab kabul, ada amanah sebagai suami, sebagai istri, dan kelak sebagai orang tua,” jelasnya.
Persoalan ekonomi keluarga juga menjadi bagian penting dalam bimbingan. Calon pengantin diajak membangun kebiasaan mengelola keuangan rumah tangga secara bijak dengan membedakan kebutuhan dan keinginan.
Menurut Eko, kemampuan mengelola keuangan sejak awal dapat membantu pasangan menghindari persoalan rumah tangga yang muncul akibat gaya hidup dan pengeluaran yang tidak terkontrol.
“Dahulukan kebutuhan, jangan mengikuti gengsi dan keinginan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang,” pesannya.
Tidak kalah penting, calon pengantin juga diingatkan untuk menjauhi berbagai hal yang dapat merusak keutuhan keluarga, seperti judi, narkoba, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Komunikasi yang sehat, kepercayaan, dan komitmen menjadi bekal penting untuk menghadapi perbedaan yang pasti muncul dalam perjalanan rumah tangga.
Di akhir bimbingan, Eko mengajak calon pengantin memandang pernikahan bukan sebagai tujuan akhir dari sebuah hubungan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Keluarga yang kuat tidak hanya dibangun dengan cinta. Ia membutuhkan iman sebagai arah, tanggung jawab sebagai pijakan, komunikasi sebagai jembatan, dan kesediaan untuk terus saling menjaga.
Sebab, ketika cinta diuji oleh keadaan, bukan sekadar rasa yang dibutuhkan, tetapi keyakinan bahwa pernikahan adalah bagian dari ibadah dan amanah kepada Allah.[ekoAW]



