Jaga Hati, Jaga Lisan! Tadabur KUA Mergangsan Kupas Cara Bijak Kelola Khilaf

YOGYAKARTA — Penghulu KUA Mergangsan, Muhammad Okto Vahrezi, S.H., mengisi kegiatan Tadabur (tausiyah ba’da dhuhur) di Masjid An-Nur Nyutran pada Senin (20/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertajuk “Khilaf dan Cara Mengelolanya” yang mengupas makna kesalahan dalam kehidupan sehari-hari serta pentingnya mengelolanya dengan bijak. Ia menjelaskan bahwa khilaf merupakan kekeliruan yang terjadi tanpa unsur kesengajaan, baik melalui ucapan maupun perbuatan.
Meski demikian, khilaf tetap perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada orang lain, terutama menyangkut perasaan dan hak sesama. “Kita harus menghindari khilaf, karena ada hak orang lain untuk tidak tersakiti. Walaupun tidak disengaja, khilaf tetap bisa melukai,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia juga memberikan contoh khilaf yang kerap terjadi, seperti lupa menepati janji, hingga ucapan yang tanpa disadari menyinggung orang lain. Oleh karena itu, setiap khilaf harus diiringi dengan permohonan maaf yang tulus serta komitmen untuk tidak mengulanginya.
Dalam tausiyahnya, ia memaparkan tiga langkah untuk meminimalisir khilaf, yakni mengendalikan hawa nafsu sebagai pondasi utama, menjaga diri dari lingkungan yang berpotensi memicu maksiat, serta membuka diri terhadap nasihat.
Menutup tausiyah, ia menegaskan bahwa nasihat merupakan bentuk kasih sayang yang bertujuan menjaga manusia tetap berada di jalan kebaikan. Meski terkadang sulit diterima karena ego, nasihat memiliki peran penting dalam memperbaiki diri.
Kegiatan tadabur ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga lisan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. (OV)



