Implementasi Ekoteologi dan Kelompok Rentan Pokjaluh Katolik

Yogyakarta (Garakat) Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kota Yogyakarta: FM Padhari Djati Martiwi, SH., Roland Modestus Jemuru, SS., Kristoforus Moses, SE., Arnoldus Suluh Candra, SS., dan Edelberus Jara, S. Fil., mengikuti acara penguatan dan pembinaan Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Katolik DIY pada hari Rabu, 15/7/2026 bertempat di Aula Susteran PPYK Kalikuning, Plunyon Sidorejo, Umbulharjo, Kec. Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tema pembinaan hari ini adalah Implementasi Ekoteologi: “Berkebun Merawat Kehidupan” terinspirasi dari Kita Kejadian 1:31
Adapun acara pertama yang dilalui penyuluh Katolik DIY adalah menanam bibit sawi, menaburkan benih wortel dan Kangkung di lahan pertanian (Bedeng) Susteran PPYK yang telah disiapakan sebelumnnya. Setelah berkebun, peserta mengikuti acara kedua yakni penguatan/pembinaan di aula Susteran PPYK. Penguatan/Pembinaan kepada Pokjaluh Katolik DIY dipimpin oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubbag TU) Kemenag Kabupaten Sleman H. Sangaji, S.H.I., Dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa indikator kehadiran kita diterima oleh masyarakat sekitar yang majemuk: Pertama: Toleransi pasih di mana umat lain menjalankan kewajiban agamanya atau ibadah yang luweh (Pasrah atau masa bodoh/cuek). Kedua: Toleransi aktif yakni memberikan jaminan keamanan yang sama kepada sesama yang berbeda agama untuk menjalankan ibadah sesuai ajarannya dan ini masih mejadi “PR” kita bersama. Mari kita berjuang bersama terkait toleransi yang aktif.
Terkait kutipan dari Kitab Kejadian 1:31 “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, dan sungguh, semuanya itu sangat baik.” Nah di Islam begini bunyinya “tak ada ciptaan yang sia-sia.” Ekoteologi sangat banyak manfaatnya hanya kita yang terbatas. Kadang kita melihat kebesaran Allah hanya untuk kepentingan kita. Contoh: Hujan yang turun dari langit, gampangnya, itu Rahmat Tuhan untuk alam semesta. Hujan untuk kebutuhan alam semesta, dan awalnya itu baik menjadi berbeda karena perbedaan cara kita menerima. Petani sangat senang, tetapi bagi orang yang lagi hajatan bisa saja itu bencana, cobaan, tantangan. Harusnya melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Jika ada orang yang memandang segala sesuatu dari sisi positif maka itu orang itulah yang patuh diikuti/di teladani. Itu orang yang pandai bersyukur. Trakhir: penyuluh naik motor ini contoh ya, belum nyampe kelompok binaan, kebanan nah yang bersyukur tukang tambal ban. Tuhan secara alami melalui siklusnya mengetahui kebutuhan kita. Mungkin dengan kebanan lewat anda Tuhan memberi rejeki kepada tukang tambal ban dan pada saat yang sama anda dihindari dari kejadian yang tidak diharapkan di depannya.
Selanjutnya para Suster PPYK menjelaskan cara membuat jamu dari hasil tanaman yang dibudidayakan dari kebun mereka sekaligus display produk olahan yang sudah memiliki PIRT dan Label halal. (ej)



