Gerakan Rajin Ngaji Warga Binaan Lapas Klas II.A Yogyakarta: Menyongsong Fajar Kebebasan

Yogyakarta (KUA Tegalrejo) – Suasana haru dan penuh harap menyelimuti Masjid Al Jajar Lapas Kelas II A Yogyakarta. Puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam kegiatan Gerakan Rajin Ngaji Warga Binaan: Menyongsong Fajar Kebebasan, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) KUA Tegalrejo Kemenag Kota Yogyakarta dengan Lapas Kelas II A Yogyakarta, sebagai bentuk pendampingan spiritual dan pembinaan kepribadian bagi warga binaan.
Kusmanto, S.Ag, PAIF KUA Tegalrejo hadir bukan sekadar mengajar mengaji, tetapi menjadi sahabat, menjadi pendengar, dan menjadi jembatan untuk kembali menemukan cahaya di tengah kegelapan masa lalu.
“Setiap manusia punya masa lalu, dan setiap pendosa punya masa depan. Penjara ini bukan akhir dari segalanya. Ini adalah madrasah kehidupan. Di sinilah Allah sedang membersihkan, mendidik, dan menyiapkan kita untuk menyongsong fajar kebebasan yang lebih baik,” ujar PAIF mengawali acara.
Dengan mengusung tema “Menyongsong Fajar Kebebasan”, materi difokuskan pada 3 kunci agar hijrah di dalam lapas bernilai ibadah dan menjadi bekal saat bebas nanti:
1.Rajin Ngaji Adalah Cahaya di Dalam Gelap.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Setiap huruf yang dibaca warga binaan di dalam sel adalah saksi kebaikan di hari akhir. Al-Qur’an akan menjadi syafaat, bukan hanya di akhirat, tapi juga menjadi penenang hati selama menjalani masa pidana.
2.Taubat Nasuha: Menyesal, Berhenti, dan Tidak Mengulangi.
Kebebasan yang sesungguhnya bukan hanya bebas dari jeruji besi, tetapi bebas dari dosa masa lalu. PAIF mengajak warga binaan untuk menjadikan Lapas sebagai momentum taubat nasuha. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim: 8 “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” Pintu taubat Allah selalu terbuka selebar-lebarnya.
3.Siapkan Fajar Kebebasan dengan Keterampilan dan Iman.
Bebas nanti mau jadi apa? Pertanyaan ini yang harus dijawab sejak sekarang. PAIF mengajak warga binaan untuk rajin sholat, rajin ngaji, dan mengikuti pembinaan keterampilan di Lapas. Agar saat fajar kebebasan itu tiba, mereka keluar sebagai pribadi yang lebih kuat, terampil, dan bertaqwa, bukan kembali ke lubang yang sama.
Kegiatan diakhiri dengan setoran hafalan surat-surat pendek, doa bersama, dan muhasabah. Banyak warga binaan yang menyampaikan kerinduan mereka pada keluarga dan tekad untuk berubah.
H Agus Yri Wijaya, Koordinator keagamaan lapas Kelas II A Yogyakarta mengapresiasi program ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada Kemenag Kota Yogyakarta, khususnya KUA Tegalrejo. Bimbingan agama adalah inti dari pemasyarakatan. Kami ingin warga binaan kami bebas secara fisik, tapi juga merdeka secara batin. Gerakan Rajin Ngaji ini sangat efektif membentuk karakter mereka,” ungkapnya.
H. Supasdi, S.Ag Kepala KUA Tegalrejo menyampaikan bahwa pendampingan di Lapas adalah wujud Dakwah Berkeadilan.
“Mereka adalah saudara kita. Mereka berhak mendapatkan bimbingan agama yang sama. Kami dari KUA Tegalrejo akan istiqomah hadir setiap pekan. Karena dakwah itu merangkul, bukan memukul. Menyongsong fajar kebebasan harus dimulai dengan cahaya Al-Qur’an hari ini,” tegasnya.
Program ini akan menjadi agenda rutin mingguan sebagai sinergi Kemenag Kota Yogyakarta dengan Lapas Kelas II A dalam mewujudkan pembinaan kepribadian yang humanis dan religius. (Kus)
#GerakanRajinNgaji
#LapasKelasIIAYogyakarta
#PAIFTegalrejo
#PembinaanWargaBinaan
#KemenagKotaYogyakarta



