Dari Tesis ke Pelayanan Umat

Yogyakarta (KUA Jetis) -Inovasi berbasis keilmuan kembali ditunjukkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, Salah satu penghulu, Wahyu Ananda, mengaktualisasikan hasil penelitian tesisnya ke dalam praktik pelayanan umat.
Penelitian tersebut disusun untuk meraih gelar Magister Agama (M.Ag) pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai bentuk kontribusi nyata, karya tesis tersebut juga telah diserahkan kepada Kepala KUA Jetis Muhammad Fauzan Fatkhulloh, Senin 6 Juli 2026 di Aula Kua Jetis, untuk menjadi referensi dalam penguatan program dan layanan.
Hasil penelitian ini tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga diimplementasikan dalam kegiatan pembinaan, bimbingan perkawinan, serta materi penyuluhan kepada masyarakat. Pendekatan yang digunakan menekankan pentingnya pemahaman keluarga sakinah yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial masyarakat saat ini.
Wahyu Ananda, M.Ag menyampaikan bahwa hasil penelitian ini menjadi pijakan dalam memperkaya metode penyampaian materi kepada calon pengantin dan masyarakat luas. “Kami berupaya menghadirkan konsep keluarga sakinah yang lebih kontekstual, mudah dipahami, dan aplikatif, sehingga benar-benar dapat menjadi panduan dalam kehidupan berkeluarga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala KUA Jetis menyampaikan apresiasi atas kontribusi ilmiah yang diberikan. “Kami sangat mengapresiasi karya tesis ini sebagai bentuk pengembangan keilmuan yang aplikatif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat program pembinaan keluarga sakinah serta meningkatkan kualitas layanan KUA kepada masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, integrasi hasil penelitian ke dalam pelayanan KUA menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan keagamaan yang berbasis riset dan kajian ilmiah. Hal ini sekaligus memperkuat peran KUA sebagai garda terdepan dalam pembinaan keluarga dan ketahanan masyarakat.
KUA Jetis berharap langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi para penghulu dan penyuluh agama untuk terus menghadirkan inovasi pelayanan berbasis riset. Dengan demikian, layanan KUA tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga edukatif, solutif, dan berdampak nyata dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah di tengah masyarakat.(Ismi)



