Dari Halaman KUA Mergangsan, Ekoteologi Berbuah Manfaat

Yogyakarta (KUA Mergangsan) – Program Ekoteologi di Kantor Urusan Agama (KUA) Kemantren Mergangsan kembali menunjukkan hasil nyata. Senin (28/9/2026), halaman KUA Mergangsan menjadi tempat panen sejumlah tanaman yang selama ini dirawat bersama, berupa tomat, cabai rawit, dan stroberi.

Rusdiati, pelaksana administrasi KUA Mergangsan yang juga ikut merawat tanaman di lingkungan kantor, melakukan pemanenan tanaman tersebut. Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari upaya menjadikan halaman KUA tidak sekadar ruang terbuka, tetapi juga lahan hijau yang produktif dan memberikan manfaat.
Tanaman yang awalnya ditanam dan dirawat dengan sederhana kini mulai memberikan hasil. Tomat dan cabai rawit dapat dipanen, sementara stroberi juga tumbuh dan menghasilkan buah. Bagi KUA Mergangsan, hasil tersebut menjadi bentuk nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal-hal kecil di sekitar tempat kerja.

Rusdiati mengatakan bahwa merawat tanaman membutuhkan ketelatenan dan kepedulian. Namun, ketika tanaman mulai berbuah dan dapat dipanen, ada rasa senang tersendiri karena apa yang dirawat bersama ternyata memberikan manfaat.
Program Ekoteologi KUA Mergangsan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan penghijauan. Di dalamnya terdapat pesan keagamaan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari amanah Allah SWT. Menanam, merawat, dan memanfaatkan hasil tanaman secara baik menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap bumi.
Semangat tersebut juga terus diperkenalkan kepada masyarakat, termasuk para calon pengantin. Penanaman dan wakaf tanaman buah menjadi simbol bahwa kehidupan keluarga yang akan dibangun hendaknya juga menghadirkan manfaat, tumbuh dengan baik, dan memberikan keberkahan bagi lingkungan sekitar.
Panen di halaman KUA Mergangsan hari ini menjadi pengingat bahwa sebuah kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Satu bibit yang ditanam, dirawat dengan sabar, dan akhirnya berbuah, dapat menjadi contoh sederhana tentang bagaimana nilai agama diterjemahkan menjadi aksi nyata menjaga lingkungan.
Dari halaman KUA Mergangsan, ekoteologi terus dirawat—bukan hanya agar kantor semakin hijau, tetapi agar setiap tanaman yang tumbuh dapat menghadirkan manfaat bagi manusia dan lingkungan.(HP)



