Cahaya Mimbar: Mengajak Kebaikan, Mencegah Kemungkaran dengan Hikmah

Yogyakarta (KUA Wirobrajan) – Mengajak kepada kebaikan tidak selalu harus dengan suara keras. Mencegah kemungkaran pun tidak harus dengan menghakimi. Dakwah yang menyentuh justru lahir dari keteladanan, kebijaksanaan, dan cara yang santun.
Semangat itulah yang dibawa Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan Agus Saiful Bahri, S.Ag., M.S.I., saat mengisi kajian di Masjid Kalimasada, Rabu (16/9/2026), melalui program Cahaya Mimbar dengan tema “Mengajak Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran.”
Dalam kajian tersebut, Agus mengupas hadis Nabi Muhammad SAW tentang kewajiban mengubah kemungkaran sesuai dengan kemampuan. Menurutnya, pesan tersebut perlu dipahami secara utuh agar semangat amar makruf nahi mungkar tidak justru melahirkan pertentangan di tengah masyarakat.
“Amar makruf nahi mungkar harus dilakukan sesuai kemampuan, dengan ilmu, cara yang tepat, dan mempertimbangkan kondisi orang yang kita ajak,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa dakwah membutuhkan hikmah. Kebaikan yang disampaikan dengan cara yang kasar berpotensi sulit diterima. Sebaliknya, nasihat yang disampaikan dengan kelembutan, keteladanan, dan bahasa yang baik akan lebih mudah menyentuh hati.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 125, yang mengajarkan agar manusia menyeru ke jalan Allah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialog dengan cara yang terbaik.
Melalui Cahaya Mimbar, KUA Wirobrajan terus mendorong hadirnya penyuluhan agama yang tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu menjadi bekal masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Bagi Agus, dakwah sejatinya bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan bagaimana kebaikan dapat tumbuh setelah pesan disampaikan.
Mengajak dengan hikmah, menasihati dengan kasih, dan memberi teladan melalui tindakan. Karena dakwah yang baik bukan sekadar membuat orang tahu tentang kebaikan, tetapi membantu mereka menemukan jalan untuk menjalankannya.[ekoAW]



