Belajar Al-Qur’an: Bukan Sekadar Gincu Jawa, tetapi Laku yang Mengubah Jiwa

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Belajar Al-Qur’an tidak boleh berhenti sebagai “gincu” kehidupan—indah pada ucapan, tetapi tidak tampak dalam perbuatan. Nilai-nilai Al-Qur’an harus turun dari lisan menuju hati, dari hati menuju sikap, dan dari sikap menjadi laku hidup.
Semangat inilah yang dibawa Penyuluh Agama Islam KUA Umbulharjo dalam pembelajaran Al-Qur’an di Rutan Wirogunan, Senin, 24 Agustus 2026. Hadir dalam kegiatan tersebut Khaerudin, Saebani, Ikbal Haraka, Triantoro, dan Gus Sugiharto.
Dalam kedalaman filsafat Jawa dikenal ungkapan “ngèlmu iku kalakone kanthi laku.” Ilmu tidak akan sempurna hanya karena diketahui, tetapi harus dijalani. Maka Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang memperindah suara, bukan pula simbol kesalehan yang menghiasi kehidupan, melainkan cahaya yang mengubah watak manusia.
Al-Qur’an mengajarkan eling lan waspada: selalu ingat kepada Allah dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia juga menuntun manusia menuju memayu hayuning bawana, menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan bagi sesama.
Karena itu, ukuran keberhasilan belajar Al-Qur’an bukan hanya seberapa banyak ayat yang mampu dibaca, tetapi seberapa jujur lisannya, seberapa bersih hatinya, seberapa sabar menghadapi ujian, dan seberapa besar manfaat dirinya bagi orang lain.
Di Rutan Wirogunan, pesan tersebut menemukan makna yang mendalam. Tempat pembinaan bukan sekadar ruang untuk menjalani masa hukuman, tetapi juga ruang untuk ngolah rasa, mbangun jiwa, dan nata maneh lakuning urip—mengolah batin, membangun kembali jiwa, dan menata perjalanan kehidupan.
Sebab masa lalu tidak harus menjadi penjara bagi masa depan.
Tembok bisa mengurung raga, tetapi tidak akan pernah mampu mengurung tekad manusia untuk berubah.
Inilah ikhtiar Penyuluh Umbulharjo: menghadirkan Al-Qur’an bukan sebagai lipstik atau gincu kehidupan, tetapi sebagai laku yang mengakar, karakter yang membumi, dan cahaya yang menerangi jalan pulang menuju kehidupan yang lebih baik.(khaer)



