Artikel

Angklung Buhun Ajak Guru MAN 1 Yogyakarta Belajar Kesederhanaan

Menikmati Angklung Buhun di tengah malam tanpa penerangan listrik pada Sabtu, 23 Agustus 2026, menjadi pengalaman berbeda bagi Suci Ambar Wati, guru sejarah MAN 1 Yogyakarta, saat berkunjung ke kawasan masyarakat adat Baduy, Banten. Hanya dengan cahaya senter sederhana, Suci menyaksikan bunyi bambu mengisi keheningan malam, berpadu dengan suasana alam yang masih terjaga. Pengalaman itu membuat perjalanan budaya tersebut terasa bukan sekadar kunjungan, tetapi juga ruang untuk belajar tentang kehidupan masyarakat Baduy.

 

Angklung Buhun merupakan kesenian tradisional masyarakat Baduy yang sebagian besar dibuat dari bambu dan diwariskan secara turun-temurun. Bentuknya dilengkapi ornamen dari unsur alam, seperti daun pelah atau daun rami, serta pada sejumlah dokumentasi ditemukan penggunaan batang padi dan rumbai daun aren muda. Angklung ini juga tidak dimainkan sembarang waktu karena berkaitan dengan kegiatan adat, terutama ritual yang berhubungan dengan siklus pertanian dan penanaman padi.

Bagi Suci, suasana malam tanpa listrik justru membuat pengalaman menikmati Angklung Buhun semakin kuat. “Di sini kita belajar bahwa tidak semua harus terang dan ramai. Dalam suasana yang sederhana, justru kita bisa lebih mendengar, lebih merasakan, dan lebih memperhatikan alam,” ujarnya. Cahaya yang terbatas membuat perhatian tertuju pada suara bambu dan kebersamaan orang-orang yang memainkannya.

 

Sebagai guru sejarah, Suci melihat pengalaman tersebut sebagai pembelajaran yang tidak hanya ditemukan di dalam kelas. Angklung Buhun memperlihatkan bagaimana nilai leluhur, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam dapat terus hidup melalui sebuah tradisi yang diwariskan antargenerasi. Dari alat musik sederhana itu pula terlihat bagaimana masyarakat Baduy menjaga kesenian sekaligus pengetahuan yang tumbuh bersama kehidupan mereka.

 

Perjalanan menikmati Angklung Buhun pada malam hari akhirnya meninggalkan pesan sederhana bagi Suci. Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, melainkan kemampuan untuk memahami apa yang benar-benar cukup. Di tengah kehidupan modern yang semakin dipenuhi cahaya dan teknologi, suara bambu dari Baduy justru mengajak manusia untuk sejenak berhenti, mendengar, dan kembali menghargai hal-hal sederhana.

 

Penulis: Suci Ambar Wati, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)

Leave a Reply