Ahmad Shidqi: Sinergi Ulama Penting Bentengi Generasi dari Dinamika Zaman

Yogyakarta (Humas) — Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta menerima kunjungan silaturahmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut ke MUI Kota Yogyakarta, Selasa (18/8/2026). Rombongan diterima di Aula 1 Kantor Kemenag Kota Yogyakarta sebagai momentum mempererat ukhuwah sekaligus bertukar pengalaman dalam merespons dinamika sosial keumatan di kedua daerah.
Kepala Kantor Kemenag Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi menyambut kunjungan tersebut sebagai sebuah kebanggaan sekaligus anugerah bagi Kemenag Kota Yogyakarta karena menjadi ruang pertemuan dan silaturahmi para ulama dari Garut dan Yogyakarta. Menurutnya, perjumpaan antarpimpinan dan ulama tersebut memiliki nilai strategis untuk memperkuat sinergi dalam menjaga kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
“Kita mendapat anugerah karena menjadi tempat dan ruang pertemuan para ulama dari Garut dan Kota Yogyakarta. Tentu ini memberikan berkah bagi kami,” ungkap Ahmad Shidqi.
Ia menilai dinamika sosial yang dihadapi Garut maupun Yogyakarta pada dasarnya memiliki sejumlah persoalan yang sama, terutama di tengah perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat. Kemajuan teknologi, menurutnya, tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga berpotensi menggeser nilai-nilai sosial dan keagamaan apabila tidak diimbangi dengan penguatan karakter dan pemahaman agama.

Ahmad Shidqi menegaskan, posisi MUI sebagai wadah para ulama memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan arah dan pembinaan kepada masyarakat. Tantangan seperti penyalahgunaan teknologi, normalisasi kemaksiatan, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, hingga persoalan sosial lainnya membutuhkan respons bersama yang bijak, sistematis, dan berkelanjutan.
“Tanggung jawab MUI tidak mudah karena menyangkut dunia dan akhirat. Bagaimana kita bersama-sama membentengi generasi muda dari derasnya arus zaman dan mempertahankan nilai-nilai agama, sehingga masyarakat benar-benar memahami agama dengan baik,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan tersebut semakin kompleks di Kota Yogyakarta yang memiliki keragaman suku, agama, budaya, serta ekosistem pendidikan dan keagamaan yang cukup besar. Karena itu, penguatan kolaborasi antara Kemenag, MUI, penyuluh agama, ormas Islam, lembaga pendidikan, pesantren, dan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan sosial-keagamaan.
Ahmad Shidqi berharap silaturahmi tersebut tidak berhenti pada pertemuan kelembagaan, tetapi berkembang menjadi pertukaran gagasan dan praktik baik yang dapat memperkuat ikhtiar bersama dalam menjawab persoalan umat.
Sementara itu, MUI Kota Yogyakarta yg diwakili salah satu ketua prof. Dr. H. Kamsi, MA. menyampaikan apresiasi atas kunjungan MUI Kabupaten Garut. Ia menyebut pertemuan tersebut bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan momentum mempererat silaturahmi dan membangun sinergi dalam menjalankan amanah keumatan. MUI, katanya, memiliki tanggung jawab hadir menjawab berbagai persoalan masyarakat muslim, tidak terbatas pada lingkungan Kementerian Agama.
Ia berharap pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman dan gagasan mengenai strategi pembinaan umat. Halim juga menyampaikan bahwa selama ini Kemenag Kota Yogyakarta memberikan dukungan terhadap aktivitas MUI Kota Yogyakarta, termasuk penggunaan fasilitas aula untuk berbagai kegiatan MUI. Dalam kesempatan itu, ia turut memperkenalkan jajaran pengurus MUI Kota Yogyakarta kepada rombongan.
Ketua MUI Kabupaten Garut KH R. Amin Muhyiddin Maolani menyampaikan terima kasih atas sambutan Kemenag dan MUI Kota Yogyakarta. Ia menjelaskan, Yogyakarta dipilih sebagai salah satu tujuan silaturahmi karena memiliki sejarah, budaya, dan pengalaman penting dalam perjalanan bangsa, termasuk perannya sebagai ibu kota Republik Indonesia pada masa perjuangan.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakter dan dinamika sosial masing-masing, namun terdapat sejumlah persoalan yang memiliki kesamaan. Garut, lanjutnya, saat ini juga menghadapi berbagai tantangan sosial seperti peredaran minuman keras, obat-obatan terlarang, persoalan LGBT, hingga meningkatnya kasus perceraian.
“Masyarakat sedang sakit dan ini menjadi tanggung jawab moral kita. Barangkali ada masukan dan solusi dari MUI Kota Yogyakarta yang bisa kami bawa pulang untuk menjawab keresahan masyarakat Garut,” ujarnya.
Silaturahmi tersebut diharapkan menjadi langkah konkret memperkuat jejaring keulamaan antardaerah, sekaligus mendorong kolaborasi dalam membangun ketahanan keluarga, membentengi generasi muda, dan menghadirkan pembinaan keagamaan yang semakin relevan dengan tantangan masyarakat di era digital.(Nis)



