Berita

Dari Halaman KUA Mergangsan Semangat Ekoteologi Tumbuh dan Menginspirasi

Dari Halaman KUA Mergangsan, Semangat Ekoteologi Tumbuh dan Menginspirasi

Yogyakarta (KUA Mergangsan) , 5 Agustus 2026 — Suasana asri terlihat di lingkungan Kantor KUA Kemantren Mergangsan. Tanaman hias, sayuran, dan tanaman buah tertata di halaman depan kantor. Sebuah kolam ikan yang dilengkapi pancuran menambah kesejukan dengan suara gemericik air. Lingkungan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata penerapan program ekoteologi di KUA Kemantren Mergangsan.

Untuk melihat pelaksanaan program tersebut, Kasubbag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta, H. Ahmad Mustafid, S.Ag., M.Hum., bersama tim, melakukan monitoring ekoteologi di KUA Kemantren Mergangsan, Rabu (5/8/2026), pukul 09.00–10.00 WIB.

Kedatangan tim disambut hangat oleh Kepala KUA Kemantren Mergangsan, Jaenal Sarifudin, S.H.I., M.S.I., bersama para penghulu, penyuluh agama Islam, pelaksana, dan pegawai KUA lainnya.

Monitoring dilakukan untuk melihat sejauh mana nilai-nilai ekoteologi diterapkan dalam lingkungan kerja maupun kegiatan kepenyuluhan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan halaman kantor agar tidak hanya terlihat bersih dan indah, tetapi juga memiliki fungsi produktif dan edukatif.

Penataan lingkungan tersebut merupakan bagian dari semangat Gemah Asri (Gerakan Membangun Harmoni Asri). Melalui program ini, kebersihan dan keasrian lingkungan diharapkan menjadi bagian dari budaya kerja seluruh pegawai KUA.

Ekoteologi sendiri menempatkan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari pengamalan nilai agama. Manusia tidak hanya memiliki tanggung jawab kepada Allah dan sesama, tetapi juga memiliki amanah untuk menjaga bumi dan seluruh lingkungan yang menjadi tempat kehidupan.

Semangat tersebut juga dibawa oleh para penyuluh agama dalam melaksanakan tugas di tengah masyarakat. Pesan tentang menjaga kebersihan, mengurangi sampah, menghemat energi, menanam dan merawat pohon, serta memanfaatkan lingkungan secara bijak menjadi bagian dari materi kepenyuluhan.

Berbagai aksi sederhana terus dikembangkan, termasuk penyerahan bibit tanaman oleh calon pengantin. Gerakan ini menjadi simbol bahwa membangun keluarga juga dapat disertai dengan menanam kebaikan bagi lingkungan dan generasi yang akan datang.

Melalui monitoring ini, KUA Mergangsan diharapkan semakin konsisten mengembangkan lingkungan kerja yang bersih, hijau, produktif, dan bernilai edukatif. Lebih dari sekadar memperindah halaman kantor, ekoteologi diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa merawat lingkungan merupakan bagian dari menjalankan amanah keagamaan. (HP)

Leave a Reply