Dampingi Menteri Kemendukbangga, Kakan Kemenag Kota Yogyakarta Gaungkan Peran Ayah di Madrasah

Yogyakarta (Humas Kemenag Kota Yogyakarta) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta mendampingi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN dalam kegiatan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR) yang digelar di MAN 1 Yogyakarta, Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir.”
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wali Kota Yogyakarta, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, kepala madrasah, guru, orang tua siswa, dan peserta didik MAN 1 Yogyakarta.
Kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi yang didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Elfa Tsuroyya dalam kegiatan tersebut menunjukkan komitmen Kementerian Agama dalam memperkuat sinergi antara keluarga dan satuan pendidikan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di madrasah, tetapi juga oleh dukungan dan pendampingan keluarga, khususnya peran ayah dalam kehidupan anak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dalam arahannya menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Karena itu, penguatan keluarga menjadi salah satu fokus penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Unit terkecil dari negara adalah keluarga. Kalau ingin mengurus negara dengan baik, maka keluarga harus dikelola dan diperkuat terlebih dahulu.

Ia menjelaskan bahwa Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak merupakan salah satu program Kemendukbangga yang bertujuan mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Kehadiran ayah saat pengambilan rapor bukan sekadar simbolis, tetapi menjadi bentuk perhatian dan tanggung jawab terhadap perkembangan anak.
Di hadapan para siswa, Menteri juga mengingatkan bahwa mereka adalah generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia. Karena itu, para pelajar perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya melalui pendidikan dan pengembangan karakter.
“Kalian adalah generasi yang akan memimpin negara ini di masa depan,” ujar Menteri.
Menteri juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, antara lain persoalan kesehatan mental dan fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika seorang anak memiliki ayah secara biologis, namun tidak merasakan kehadiran dan perannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, baik dari aspek psikologis, sosial, maupun pendidikan. Oleh karena itu, keterlibatan ayah dalam berbagai aktivitas pendidikan anak perlu terus diperkuat.
Selain itu, Menteri mengajak para siswa untuk memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak dan produktif.
Gunakan teknologi untuk hal-hal yang positif, yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Menutup arahannya, Menteri memberikan pesan sederhana kepada para siswa, yakni “belajar, belajar, dan belajar.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap menjadi kunci utama dalam meraih masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta menyambut baik pelaksanaan GEMAR di MAN 1 Yogyakarta. Menurutnya, program ini selaras dengan visi pendidikan madrasah yang menempatkan keluarga sebagai mitra strategis dalam membentuk generasi yang unggul, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Melalui kegiatan ini, Kemenag Kota Yogyakarta berharap semakin banyak orang tua, khususnya ayah, yang terlibat aktif dalam mendampingi proses pendidikan anak. Sebab, madrasah yang kuat harus didukung oleh keluarga yang kuat, sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, tangguh, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Madrasah tidak hanya mendidik siswa menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga membangun karakter. Untuk itu, dukungan keluarga, terutama kehadiran ayah, menjadi bagian penting dalam keberhasilan pendidikan anak.
Kegiatan GEMAR di MAN 1 Yogyakarta berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan terbaik lahir dari kolaborasi yang kuat antara keluarga, madrasah, dan pemerintah dalam mengawal tumbuh kembang generasi penerus bangsa. (Nis)



