Dari I’rab ke Ikatan, Pesan Mendalam Khutbah Nikah di Mantrijeron

YOGYAKARTA – Upaya memperkuat fondasi spiritual dan psikologis pasangan baru ditunjukkan Penghulu KUA Mantrijeron melalui pendekatan yang unik dan intelektual. Nilai-nilai filologi bahasa Arab diintegrasikan dalam khutbah nikah pada prosesi akad Muhammad Wildan Alfaqih dan Shafrina Nur Rachmayanti yang berlangsung di Ruba Grha Hotel Mangkuyudan, Ahad (26/4/2026).
Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., dalam khutbahnya menyampaikan pesan mendalam yang disarikan dari bait Alfiyyah Ibnu Malik. Ia mengangkat konsep i’rab (perubahan harakat akhir kata dalam bahasa Arab) sebagai metafora dalam dinamika kehidupan rumah tangga.
Mu’inan menjelaskan bahwa peralihan dari kehidupan lajang menuju rumah tangga memerlukan kesiapan mental dan spiritual yang selaras dengan nilai-nilai dalam kaidah gramatika Arab. Ia menguraikan tiga poin utama sebagai fondasi kehidupan berkeluarga.
Pertama, rafa’ dan dhammah yang merepresentasikan visi luhur dan persatuan. Rumah tangga, menurutnya, harus dibangun dengan cita-cita tinggi, sementara dhammah yang bermakna “kumpul” melambangkan pentingnya kebersamaan dan kemampuan mengesampingkan ego demi menjaga keutuhan keluarga.
Kedua, nashab dan fathah sebagai simbol keterbukaan. Sifat fathah yang berarti “terbuka” menjadi landasan dalam membangun komunikasi yang jujur dan transparansi, termasuk dalam pengelolaan keuangan, guna menjaga stabilitas rumah tangga dari berbagai tantangan.
Ketiga, jar dan kasrah yang mencerminkan sikap tawadhu atau rendah hati. Dalam kondisi sulit, pasangan dituntut untuk mampu bersabar dan menekan ego pribadi. Sikap mengalah bukanlah kelemahan, melainkan strategi menjaga keharmonisan.
Sebagai penutup, Mu’inan mengutip penggalan bait “Dzikrullahi ‘abdahu yasur” yang menegaskan bahwa mengingat Allah akan memudahkan urusan hamba-Nya. Ia menekankan bahwa keberhasilan dalam membangun komunikasi dan mengelola kehidupan rumah tangga sangat ditentukan oleh kekuatan spiritual.
“Sehebat apa pun teknik komunikasi, kebahagiaan sejati berakar dari hubungan dengan Sang Pencipta. Jika Allah menjadi pusat cinta, maka setiap persoalan akan menemukan kemudahan,” ungkapnya.
Pendekatan literasi kitab kuning yang disampaikan dalam khutbah ini menunjukkan bahwa khazanah keilmuan klasik tetap relevan dalam menjawab tantangan kehidupan modern, khususnya dalam membangun keluarga yang kokoh.
Pesan yang disampaikan pun menjadi refleksi bagi pasangan pengantin dan hadirin: membangun rumah tangga dengan cita-cita luhur, keterbukaan, kerendahan hati, serta menjadikan nilai spiritual sebagai fondasi utama kehidupan. (m.uin.@n)



