Waspadai Tazyin, Penyuluh KUA Wirobrajan Ajak Jamaah Lebih Kritis Menilai Perbuatan

Yogyakarta (KUA Wirobrajan) — Keburukan tidak selalu hadir dalam rupa yang menakutkan. Terkadang, ia justru tampak baik, terasa wajar, bahkan dianggap biasa karena terus dilakukan berulang kali. Inilah tazyin, salah satu tipu daya setan yang menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk senantiasa menjaga hati dan perilaku.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan, Margiyanto, dalam program Cahaya Mimbar bersama jamaah Masjid Ikhwatun Hasanah, Senin (12/10/2026). Mengacu pada QS. An-Nahl ayat 63, ia mengajak jamaah mengenali tipu daya yang dapat mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan.
Menurut Margiyanto, tazyin merupakan upaya menjadikan sesuatu yang buruk seolah-olah baik. Dalam kehidupan sehari-hari, perangkap ini dapat muncul ketika seseorang mulai membenarkan kesalahan, menganggap pelanggaran sebagai hal lumrah, atau merasa tidak ada yang salah hanya karena banyak orang melakukan hal serupa.
“Ketika keburukan terus-menerus dianggap biasa, kita bisa kehilangan kepekaan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang keliru,” menjadi pesan penting dalam pembinaan tersebut.
Ia mengingatkan bahwa kebiasaan yang telah mengakar tidak serta-merta menjadikan suatu perbuatan benar. Karena itu, setiap muslim perlu membangun kesadaran untuk menilai tindakan berdasarkan tuntunan agama, bukan semata-mata mengikuti kebiasaan lingkungan atau pembenaran diri.
Melalui kegiatan Cahaya Mimbar, Margiyanto berharap jamaah semakin terbiasa melakukan introspeksi, berani mengevaluasi perilaku, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mengambil keputusan. Kepekaan spiritual perlu terus dipelihara agar seseorang tidak mudah terjebak dalam pembenaran terhadap perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Pembinaan agama, lanjutnya, tidak cukup berhenti pada pemahaman materi atau mendengarkan nasihat. Nilai-nilai yang disampaikan harus tercermin dalam kehidupan nyata, melalui kemampuan mengenali keburukan, memilih jalan yang benar, dan keberanian meninggalkan perbuatan yang keliru.
Melalui penguatan pemahaman keagamaan ini, KUA Wirobrajan terus mendorong tumbuhnya kesadaran beragama yang membumi. Sebab, cahaya ilmu tidak hanya membantu seseorang memahami kebenaran, tetapi juga menuntunnya untuk berani menjalankan kebaikan dan menjauhi keburukan.[ekoAW]



