Berita

Tokoh Agama Bersatu Lawan Stigma HIV/AIDS, Kemenag Kota Yogyakarta Perkuat Edukasi Berbasis Keimanan

 

Yogyakarta (Penmad) — Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Yogyakarta, Hj. Elfa Tsuroyya, menghadiri kegiatan bertajuk Peran Tokoh Agama dan Komunitas dalam Mewujudkan Kepedulian Berbasis Nilai Keimanan bagi Komunitas/Penyintas HIV/AIDS yang diselenggarakan pada Senin (11/4/2026) di Royal Darmo Malioboro Hotel.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Vesta Indonesia tersebut menghadirkan 25 institusi dan lembaga yang merupakan representasi tokoh lintas agama dan komunitas sosial. Forum ini menjadi ruang dialog sekaligus penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam membangun kepedulian, edukasi, dan penghapusan stigma terhadap penyintas HIV/AIDS melalui pendekatan nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan.

Ketua Yayasan Vesta Indonesia, Joko Hadi Purnomo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tokoh agama memiliki posisi strategis dalam membentuk nilai, norma, dan perilaku masyarakat. Menurutnya, ajaran agama pada hakikatnya menjunjung tinggi kasih sayang, keadilan, empati, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

“Nilai-nilai keagamaan sangat sejalan dengan prinsip kemanusiaan dalam penanggulangan HIV/AIDS, yaitu pentingnya perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif kepada setiap individu tanpa memandang latar belakangnya. Karena itu, tokoh agama memiliki potensi besar menjadi agen perubahan dalam mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penyintas HIV/AIDS,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Elfa Tsuroyya menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Ia juga memaparkan berbagai program edukasi dan pembinaan yang selama ini telah berjalan di lingkungan Kementerian Agama Kota Yogyakarta dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat terkait HIV/AIDS sekaligus menanamkan nilai penghormatan terhadap sesama manusia.

Beberapa upaya yang telah dilakukan di antaranya edukasi melalui kegiatan BRUS di lingkungan madrasah, program bimbingan perkawinan bagi calon pengantin yang memuat materi kesehatan reproduksi, hingga edukasi seputar HIV/AIDS yang dilaksanakan bekerja sama dengan puskesmas setempat.

Pada sesi tindak lanjut, disampaikan pula komitmen untuk memperluas jangkauan edukasi kepada berbagai elemen masyarakat binaan Kemenag Kota Yogyakarta, seperti guru madrasah, penyuluh agama di KUA, serta para asatidz di lingkungan pondok pesantren. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus menumbuhkan lingkungan yang inklusif, ramah, dan bebas diskriminasi bagi penyintas HIV/AIDS.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara tokoh agama, komunitas, dan lembaga pemerintah dapat terus diperkuat dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap martabat setiap insan.(Tamam)