Simulasi Pernikahan Adat Jawa Warnai Kegiatan Kokurikuler MAN 1 Yogyakarta

Yogyakarta (MAN 1 Yogyakarta) – Kegiatan kokurikuler Kelas XII MAN 1 Yogyakarta Tahun Ajaran 2025/2026 menghadirkan pembelajaran yang unik dan kontekstual melalui praktik pernikahan adat Jawa yang digelar di Aula MAN 1 Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi lintas mata pelajaran, melibatkan Bahasa Jawa, Seni Budaya, dan Fiqih, dengan tujuan memperdalam pemahaman murid terhadap tradisi budaya sekaligus nilai-nilai keislaman.
Materi pembelajaran difokuskan pada Upacara Adat Jawa Panggih, salah satu rangkaian penting dalam pernikahan adat Jawa, serta prosesi ijab qabul ditinjau dari perspektif fiqih. Melalui pendekatan ini, murid tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami makna filosofis dan syariat yang melekat dalam setiap tahapan pernikahan.
Sebelum praktik dilaksanakan, guru memberikan penjelasan mengenai berbagai prosesi dalam upacara pengantin Jawa, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. Selanjutnya, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan peran atau tugas yang akan mereka jalani. Setiap kelompok mendiskusikan perlengkapan yang dibutuhkan, termasuk penataan tempat dan properti pendukung acara.
Dalam pelaksanaan praktik, murid berperan aktif dengan pembagian tugas yang jelas dan terstruktur. Mereka terbagi dalam tim pengantin, keluarga pengantin, penghulu, saksi, pembawa acara (MC), tim dekorasi, tim perlengkapan, tim kostum dan tata rias (MUA), tim dokumentasi, serta tim hantaran. Dengan demikian, setiap murid memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menyukseskan rangkaian acara pernikahan adat tersebut.

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag, S.Pd, M.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan kokurikuler semacam ini merupakan strategi pembelajaran yang efektif untuk menguatkan pemahaman murid secara utuh. “Pembelajaran tidak cukup hanya berhenti pada teks dan teori. Melalui praktik langsung seperti ini, murid dapat memahami nilai budaya dan syariat Islam secara kontekstual, sekaligus menumbuhkan sikap tanggung jawab, kerja sama, dan kreativitas,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pengenalan budaya lokal yang dipadukan dengan nilai keagamaan menjadi bekal penting bagi murid dalam kehidupan bermasyarakat. “Kami berharap murid MAN 1 Yogyakarta mampu menjadi generasi yang berakar pada budaya, berkarakter, serta memiliki pemahaman keagamaan yang kuat,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, murid diharapkan mampu mengenal dan mendalami prosesi ijab qabul serta upacara adat pengantin Jawa yang masih berkembang di masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas, komunikasi, dan kerja sama antarmurid.
Hasil yang dirasakan pun cukup signifikan. Murid menjadi lebih memahami tahapan pernikahan, baik dari sisi syariat Islam maupun tradisi budaya Jawa, serta memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan pentingnya melestarikan budaya lokal dalam kehidupan modern. (dee)



