Sambat Boleh, Dosa Jangan! KUA Wirobrajan Ajak Umat Kelola Keluh Kesah dengan Bijak

Yogyakarta – Mengeluh atau sambat saat menghadapi ujian hidup merupakan fitrah manusia. Namun, Islam mengajarkan agar setiap keluh kesah disampaikan dengan cara yang benar sehingga menjadi jalan memperoleh pertolongan Allah SWT, bukan justru menambah persoalan. Pesan tersebut disampaikan dalam program Camar (Cahaya Mimbar) yang digelar Kantor Urusan Agama (KUA) Kemantren Wirobrajan di Masjid Kalimosodo, Rabu (24/6/2026).
Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan, Berlin Sunardi, S.Pd., menjelaskan bahwa kecenderungan manusia untuk mengeluh telah dijelaskan Allah SWT dalam QS. Al-Ma’arij ayat 19–21. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa manusia diciptakan memiliki sifat mudah berkeluh kesah ketika ditimpa kesusahan.
“Islam tidak melarang manusia merasa lelah, sedih, atau menghadapi tekanan hidup. Yang diajarkan adalah kepada siapa keluhan itu disampaikan agar menjadi solusi, bernilai pahala, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjadi dosa atau membuka aib,” ujar Berlin.
Dalam kajiannya, Berlin memaparkan tiga adab sambat yang diajarkan dalam Islam. Pertama, mengadukan seluruh persoalan kepada Allah SWT, terutama setelah salat fardu maupun saat tahajud. Kedua, berbagi beban dengan pasangan atau keluarga sebagai ruang yang aman untuk saling menguatkan dan mencari jalan keluar bersama. Ketiga, menyampaikan persoalan kepada pihak yang tepat dan memiliki kompetensi, seperti psikolog, ustaz, atau pendamping yang dapat memberikan solusi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai tempat meluapkan seluruh persoalan pribadi. Menurutnya, tidak semua masalah harus diketahui publik. Memilih tempat dan orang yang tepat untuk mengadu merupakan bagian dari menjaga kehormatan diri, keluarga, sekaligus ikhtiar menyelesaikan persoalan secara bijaksana.
Melalui program Camar, KUA Kemantren Wirobrajan terus menghadirkan dakwah yang membumi dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Edukasi ini diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat bahwa setiap ujian hidup dapat dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan adab sesuai tuntunan syariat, sehingga hati menjadi lebih tenang dan kehidupan semakin berkah.[ekoAW]



