Berita

Pokjaluh Islam Kota Yogya Gelar Musyawarah, Perkuat Profesionalisme

Turi (Humas) – Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam (Pokjaluh) Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta menggelar Musyawarah Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam Tahun 2026 di Jaka Garong, Turi, Sleman, Selasa (7/7/2026). Kegiatan yang dipimpin Ketua Pokjaluh Kota Yogyakarta, Eko Agus Wibowo, S.Sos.I., ini diikuti 104 Penyuluh Agama Islam ASN dari 14 Kantor Urusan Agama (KUA) kemantren se-Kota Yogyakarta.

Musyawarah menjadi forum strategis untuk mengevaluasi kinerja organisasi sekaligus menyusun arah kepengurusan baru. Agenda utama meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2023–2026, pemilihan pengurus Pokjaluh periode 2026–2029, serta kegiatan capacity building guna meningkatkan kapasitas dan soliditas para penyuluh.

Hadir membuka kegiatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, H. Ahmad Shidqi, S.Psi., M.Eng., didampingi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mohammad Tahrir, S.E., M.M. Turut hadir Ketua Pokjaluh DIY H. Jakfar Arifin, S.Ag., M.A., serta Ketua Panitia Musyawarah, Dai Iskandar, S.Ag., yang menyampaikan laporan penyelenggaraan kegiatan.

Dalam laporannya, Dai Iskandar menjelaskan bahwa musyawarah yang rutin diselenggarakan setiap periode kepengurusan sejak 2003 tersebut selalu mengusung tiga agenda utama, yakni laporan pertanggungjawaban pengurus, pemilihan pengurus baru, dan capacity building sebagai upaya penguatan kompetensi penyuluh agama.

Saat membuka acara, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme Penyuluh Agama Islam sebagai garda terdepan pembinaan kehidupan beragama di masyarakat.

“Penyuluh Agama Islam harus terus mengedepankan profesionalitas dalam menjalankan tugas untuk kepentingan bangsa dan negara. Selain itu, penyuluh juga memiliki peran penting dalam meningkatkan indeks pemahaman keagamaan masyarakat,” ujar Ahmad Shidqi.

Ia juga mengingatkan seluruh penyuluh agar disiplin mematuhi jam kerja sesuai regulasi yang berlaku, aktif memanfaatkan forum Pokjaluh sebagai ruang berbagi pengalaman dan mencari solusi atas berbagai tantangan di lapangan, serta senantiasa menjaga karakter dan integritas sebagai teladan di tengah masyarakat.

Menurutnya, nilai-nilai agama tidak cukup disampaikan melalui ceramah, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sehingga mampu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Ahmad Shidqi juga mengajak seluruh Penyuluh Agama Islam untuk mendukung program Yogyakarta sebagai Kota Wakaf melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Peran aktif penyuluh dinilai sangat strategis dalam meningkatkan literasi wakaf sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi umat.

Melalui musyawarah ini diharapkan lahir kepengurusan Pokjaluh Kota Yogyakarta periode 2026–2029 yang mampu memperkuat sinergi, meningkatkan kualitas layanan penyuluhan, serta menjawab berbagai tantangan pembinaan keagamaan di Kota Yogyakarta. Rangkaian kegiatan Musyawarah Pokjaluh dibuka dengan memanjatkan doa yang dipandu oleh KH. Sholehudin Mansur, S.Ag. [Ara]