Perkuat Dakwah Ramah Lingkungan, Penyuluh KUA Mergangsan Ikuti Bimtek Ekoteologi Kemenag

YOGYAKARTA (KUA Mergangsan) – Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Mergangsan, Lia Karena, S.Ag., mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoteologi yang diselenggarakan Kementerian Agama di Balai Diklat Keagamaan Semarang pada 9–11 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran penyuluh agama dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pelestarian lingkungan hidup.
Bimtek tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas penyuluh agama dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan. Melalui konsep ekoteologi, para peserta diajak memahami bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Selama kegiatan berlangsung, peserta yang merupakan utusan Kementerian Agama dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah memperoleh berbagai materi strategis. Materi tersebut meliputi kebijakan penguatan ekoteologi Kementerian Agama, pengelolaan lingkungan berbasis komunitas, hingga strategi penyuluhan yang efektif dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan, penghijauan, serta ketahanan pangan keluarga.
Lia Karena menyambut baik pelaksanaan bimtek tersebut dan berkomitmen untuk mengimplementasikan berbagai pengetahuan yang diperoleh melalui program-program penyuluhan, baik di lingkungan KUA maupun di tengah masyarakat.
Salah satu bentuk implementasi yang akan terus diperkuat adalah dukungan terhadap Program Ekoteologi KUA Mergangsan BERSERI (Bersih, Sehat, dan Asri). Program ini mengedepankan gerakan penghijauan, pengelolaan sampah, pemanfaatan lahan produktif, serta edukasi lingkungan yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan.
Menurutnya, penyuluh agama memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang tidak hanya membimbing umat dalam aspek ibadah, tetapi juga menanamkan kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan sebagai bagian dari pengamalan ajaran agama.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para penyuluh agama mampu menjadi motor penggerak dalam membangun budaya cinta lingkungan di tengah masyarakat. Kepedulian terhadap alam tidak lagi dipandang sebagai isu terpisah, melainkan sebagai wujud nyata tanggung jawab spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.[liakarlia]



