Penyuluh KUA Wirobrajan Ajak Warga Binaan Mensyukuri Hidayah dan Kecukupan

Yogyakarta (Humas) — Keberuntungan dalam hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau melimpahnya materi. Ada keberuntungan yang jauh lebih bernilai, yakni ketika seseorang mendapatkan hidayah, rezeki yang cukup, serta hati yang tenang dalam menjalani kehidupan.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan, Eko Agus Wibowo, S.Sos.I., saat memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada warga binaan Lapas Kelas IIA Yogyakarta di Masjid At Taqwa, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan diawali dengan salat Dhuhur berjamaah yang dipimpin Eko, kemudian dilanjutkan kultum bertema “Manusia yang Beruntung”.
Di hadapan warga binaan, Eko mengajak peserta melihat kembali makna keberuntungan dari sudut pandang spiritual. Menurutnya, seseorang patut merasa beruntung ketika Allah masih memberikan hidayah untuk mengenal dan menjalankan ajaran Islam, sekaligus memberikan rezeki yang cukup untuk menjalani kehidupan.
Pesan itu kemudian dikaitkan dengan doa yang setiap Muslim lantunkan ketika duduk di antara dua sujud, “warzuqni”, yang berarti berilah aku rezeki.
“Yang penting bukan seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi bagaimana Allah memberikan kecukupan dan ketenangan dalam kehidupan,” pesannya.
Eko menekankan bahwa rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk materi. Kesehatan, kesempatan memperbaiki diri, ketenangan hati, keluarga, ilmu, hingga kesempatan untuk kembali mendekat kepada Allah juga merupakan bagian dari rezeki yang patut disyukuri.
Bagi warga binaan, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup masih menyimpan ruang untuk berubah dan memperbaiki diri. Masa lalu tidak harus menjadi akhir dari harapan, selama masih ada kemauan untuk mendekat kepada Allah dan menata kehidupan ke arah yang lebih baik.
Warga binaan mengikuti bimbingan dengan antusias. Suasana pembinaan berlangsung khidmat dan penuh perhatian.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Penyuluh Agama Islam KUA Wirobrajan dalam menghadirkan pendampingan keagamaan bagi warga binaan. Tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, bimbingan juga diharapkan menjadi ruang untuk menumbuhkan harapan, memperkuat iman, dan menghadirkan ketenangan dalam proses menjalani pembinaan.[ekoAW]



