Penyuluh KUA Mergangsan Sampaikan Pesan Silaturahmi dan Memaafkan dalam Syawalan Bani Abu Kahar

Yogyakarta — Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa di Gedung Dakwah, RW 16 Karanganyar, Brontokusuman, Mergangsan, pada Ahad (29/3/2026). Dalam acara Syawalan Bani Abu Kahar, Penyuluh Agama Islam KUA Mergangsan, Hari Purnomo, S.Pd., menyampaikan ceramah bertema “Silaturahmi yang Mendekatkan, Memaafkan yang Memuliakan.”
Syawalan dihadiri keluarga besar Bani Kahar dari berbagai daerah. Kehadiran para peserta, baik dari dekat maupun jauh, menjadi bukti kuatnya semangat menjaga silaturahmi pasca Idul Fitri.
Dalam tausiyahnya, Hari Purnomo menekankan bahwa tradisi Syawalan bukan sekadar budaya tahunan, tetapi memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi dalam ajaran Islam.
“Silaturahmi bukan hanya kebiasaan setelah Lebaran, melainkan perintah agama yang memiliki dampak besar dalam kehidupan, termasuk melapangkan rezeki dan membawa keberkahan umur,” ungkapnya.
Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang menjelaskan bahwa orang yang menyambung tali silaturahmi akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya. Penjelasan ini diperkuat dengan pandangan para ulama, di antaranya Imam An-Nawawi yang menyebutkan bahwa silaturahmi menjadi sebab keberkahan hidup seseorang.
Dalam suasana yang santai namun sarat makna, ia juga mengajak jamaah untuk tidak menggantikan silaturahmi dengan sekadar pesan singkat. “Bertemu langsung, berjabat tangan, dan saling tersenyum memiliki nilai yang jauh lebih mendalam. Bahkan, dalam kebersamaan itu terdapat keberkahan yang tidak tergantikan,” tambahnya.
Selain itu, ia mengingatkan keutamaan orang yang datang dari jauh untuk bersilaturahmi.
Menurutnya, perjalanan yang ditempuh dengan niat mengunjungi saudara karena Allah akan mendatangkan cinta dari Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah ﷺ.
Pada bagian kedua ceramah, Hari Purnomo menyoroti pentingnya memaafkan sebagai inti dari Syawalan. Ia menjelaskan bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan, baik dalam ucapan maupun perbuatan, sehingga memaafkan menjadi kunci menjaga keharmonisan hubungan.
“Memaafkan bukan tanda kelemahan, tetapi justru menjadi sebab kemuliaan di sisi Allah. Orang yang mampu memaafkan adalah orang yang kuat,” tegasnya, mengutip hadits Nabi ﷺ bahwa Allah akan menambah kemuliaan bagi hamba yang pemaaf.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, banyak konflik kecil yang bisa menjadi besar hanya karena tidak ada yang mau memulai untuk memaafkan. Dengan pendekatan ringan dan humor, ia mengajak jamaah untuk benar-benar memaafkan secara tulus tanpa menyimpan kembali kesalahan orang lain.
Mengakhiri ceramahnya, ia mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan silaturahmi sebagai kebiasaan dan memaafkan sebagai karakter dalam kehidupan sehari-hari. “Jika kita ingin mendapatkan ampunan Allah, maka kita juga harus belajar memaafkan sesama,” pesannya.
Acara Syawalan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah, memperbaiki hubungan, serta menumbuhkan kembali nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat silaturahmi dan saling memaafkan tidak hanya berhenti pada momentum Syawal, tetapi terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari. (HP)


