Berita

Penyuluh KUA Mergangsan Laksanakan TADABUR di Masjid An Nur Nyutran

Yogyakarta — Penyuluh Agama Islam KUA Kemantren Mergangsan, Hari Purnomo, S.Pd., melaksanakan kegiatan TADABUR (Tausyiah dan Doa Ba’da Dhuhur) di Masjid An Nur Nyutran, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta, Senin (5/1/2026).

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara KUA Mergangsan dan Takmir Masjid An Nur Nyutran, dengan tujuan menyegarkan iman dan menyuburkan amal shalih di tengah kesibukan aktivitas harian jamaah.

Dalam kultum Dhuhur yang disampaikan, Penyuluh mengangkat tema “Dua Nikmat yang Sering Terlupakan, dan Kita Rasakan Siang Ini,” merujuk pada hadits Rasulullah ﷺ tentang nikmat sehat dan waktu luang yang sering membuat manusia terlena.

Untuk memudahkan pemahaman jamaah, Penyuluh menyampaikan contoh nyata yang baru saja dialaminya. Ia menceritakan bahwa tiga hari sebelumnya mengalami sakit gigi, dan pada pagi hari sebelum TADABUR sempat berobat ke Puskesmas Mergangsan, poli gigi. Ketidaknyamanan dan rasa khawatir saat pemeriksaan, terutama ketika membayangkan gigi akan dicabut, membuat tekanan darahnya naik hingga 140 dan harus diukur berulang kali dengan hasil yang sama.

Namun setelah dilakukan tindakan dengan bius lokal dan gigi berhasil dicabut, tekanan darah kembali normal di angka 120.

Dari pengalaman tersebut, Penyuluh menegaskan bahwa nikmat gigi sehat baru benar-benar terasa ketika rasa sakit datang. Inilah yang dimaksud Rasulullah ﷺ sebagai sikap terlena dan tertipu, karena tidak menyadari nikmat kesehatan ketika masih dirasakan utuh.

Hal ini, menurutnya, berlaku pula pada seluruh nikmat kesehatan lainnya.

Selain nikmat sehat, Penyuluh juga mengulas tentang nikmat waktu luang melalui kisah seorang rekan penyuluh yang bekerja di sebuah percetakan besar.

Rekan tersebut harus menjalani shift sore pukul 16.00 hingga 22.00 WIB, melewati waktu shalat Maghrib dan Isya’. Karena mesin cetak harus terus berjalan dan hasil cetakan harus diawasi secara ketat, pelaksanaan shalat dilakukan secara bergantian, bahkan terkadang harus dijama’, baik di awal maupun di akhir waktu, demi tanggung jawab pekerjaan.

Dari kisah tersebut, Penyuluh mengajak jamaah untuk bersyukur atas kondisi yang dialami di Masjid An Nur Nyutran. Jamaah memiliki kelonggaran waktu, pimpinan yang mengizinkan shalat berjamaah, bahkan kesempatan untuk bercengkerama setelah shalat.

Semua itu, menurutnya, adalah nikmat waktu luang yang luar biasa dan patut disyukuri.
Kegiatan TADABUR ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah Subhanahu Wa Ta ‘alaa senantiasa menjaga kesehatan, memberkahi waktu, serta menerima amal ibadah jamaah Masjid An Nur Nyutran.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran umat untuk tidak menunda ibadah dan lebih menghargai nikmat sehat serta waktu luang semakin tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.(HP)

Leave a Reply