Penyuluh KUA Mantrijeron Dampingi Lansia Istiqamah Belajar Al-Qur’an

Yogyakarta (KUA Mantrijeron) — Peran Penyuluh Agama Islam tidak hanya hadir dalam penyampaian materi keagamaan, tetapi juga diwujudkan melalui pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan di tengah masyarakat. Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam KUA Mantrijeron, Fatkur Rohman, melalui pendampingan Majelis Ta’lim Husnul Khotimah di Suryodiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta.
Setiap Senin malam Selasa pukul 20.00–21.30 WIB, jamaah yang mayoritas lanjut usia secara rutin mengikuti kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di kediaman Ketua Majelis Ta’lim Husnul Khotimah, Yaisul Hafidz. Kegiatan diisi dengan pembacaan Al-Fatihah, Surah Al-Mulk, serta tadarus bersama dengan pola saling menyimak dan memperbaiki bacaan.
Fatkur mengatakan, keberadaan majelis ta’lim menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk terus meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semangat para jamaah, khususnya yang sudah lanjut usia, untuk terus belajar Al-Qur’an merupakan teladan. Belajar tidak mengenal usia. Yang terpenting adalah istiqamah, mau terus belajar, dan berupaya memperbaiki diri,” ujar Fatkur.
Menurutnya, pendampingan terhadap majelis ta’lim merupakan bagian dari ikhtiar Penyuluh Agama Islam dalam menghadirkan layanan keagamaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Selain meningkatkan kemampuan keagamaan, kegiatan rutin tersebut juga menjadi sarana membangun silaturahmi, kebersamaan, dan kepedulian antarsesama jamaah.
Fatkur menilai, konsistensi jamaah dalam mengikuti pembelajaran Al-Qur’an menunjukkan bahwa proses pembinaan keagamaan di masyarakat membutuhkan kesinambungan. Penyuluh tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mendorong agar masyarakat memiliki ruang belajar yang hidup, partisipatif, dan terus berjalan.
Kepala KUA Mantrijeron, Setyo Purwadi, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan Penyuluh Agama Islam terhadap majelis ta’lim di wilayahnya. Menurutnya, kehadiran penyuluh di tengah masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat pembinaan kehidupan keagamaan.
“Penyuluh memiliki peran strategis dalam mendampingi masyarakat. Kehadiran mereka di majelis ta’lim menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran agama sekaligus membangun kehidupan keagamaan yang harmonis di masyarakat,” jelas Setyo.
Ia berharap pembinaan yang dilakukan Penyuluh Agama Islam terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga majelis ta’lim tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kebersamaan, kepedulian, dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Melalui pendampingan yang konsisten, Majelis Ta’lim Husnul Khotimah menjadi salah satu ruang pembinaan keagamaan yang menunjukkan bahwa semangat mempelajari Al-Qur’an tidak mengenal batas usia. Kehadiran penyuluh di tengah jamaah menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pembinaan agama yang berkelanjutan dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat. (Zah/Ra)



