Berita

Penyuluh KUA Gedongtengen Tausiyah di MT Assakinah RW02 Jlagran

Majelis Taklim (MT) ibu-ibu Assakinah kampung Jlagran RW 02 menggelar pengajian dengan tema “Penyakit Hati dan Cara Menyembuhkannya” bersama Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen, Ariadi, pada Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini menjadi sarana meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus mengajak para jamaah untuk melakukan introspeksi diri demi membangun pribadi yang lebih baik.

Dalam pengajian tersebut, Ariadi mengajak para jamaah memahami bahwa kesehatan hati memiliki peran penting dalam kehidupan seorang muslim. Hati bukan sekadar bagian dari diri manusia, tetapi juga menjadi pusat yang memengaruhi perkataan, perilaku, dan keputusan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Ariadi menjelaskan bahwa penyakit hati dapat muncul dalam berbagai bentuk, di antaranya iri dan dengki, sombong, riya, ujub, berprasangka buruk, serta berlebihan dalam mencintai dunia. Jika tidak disadari dan dikendalikan, penyakit-penyakit tersebut dapat merusak hubungan antarsesama, memicu perselisihan, dan mengurangi kualitas ibadah kepada Allah SWT.

Untuk memperkuat materi yang disampaikan, Ariadi mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan pentingnya menjaga hati.

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Ariadi, hadis tersebut menjadi pengingat bahwa memperbaiki diri harus dimulai dari membersihkan hati. Seseorang tidak cukup hanya memperbaiki penampilan luar, tetapi juga perlu menata niat, menjaga lisan, serta membiasakan diri berbuat baik kepada orang lain.

Lima Cara Menyembuhkan Penyakit Hati

Dalam penyampaiannya, Ariadi menekankan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan hati.

Pertama, memperbanyak istigfar dan bertobat kepada Allah SWT. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, membiasakan diri memohon ampun merupakan langkah awal untuk memperbaiki hati dan perilaku.

Kedua, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an. Dengan mengingat Allah, hati diharapkan menjadi lebih tenang dan tidak mudah dikuasai oleh amarah, iri hati, maupun keinginan untuk menyakiti orang lain.

Ketiga, membiasakan diri bersyukur. Rasa syukur membantu seseorang menerima nikmat yang dimiliki tanpa harus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Dengan demikian, tumbuh sikap qanaah dan terhindar dari kedengkian.

Keempat, menjaga lisan dan prasangka. Ariadi mengingatkan bahwa banyak persoalan dalam kehidupan bermasyarakat berawal dari perkataan yang tidak terjaga, kebiasaan bergunjing, serta prasangka buruk. Karena itu, jamaah diajak membiasakan diri berbicara baik atau memilih diam apabila perkataan berpotensi menyakiti orang lain.

Kelima, melakukan introspeksi diri atau muhasabah. Sebelum menilai kekurangan orang lain, seseorang hendaknya terlebih dahulu memeriksa kekurangan dirinya sendiri. Sikap ini akan menumbuhkan kerendahan hati dan mendorong seseorang untuk terus memperbaiki akhlak.

Menjaga Kerukunan Dimulai dari Hati

Lebih lanjut, Ariadi mengajak para ibu untuk menjadikan pengajian bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan kesempatan memperbaiki kualitas diri, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Menurutnya, seorang ibu memiliki peran penting dalam membangun suasana keluarga yang harmonis. Hati yang bersih akan membantu seseorang lebih sabar dalam menghadapi persoalan, mampu mengendalikan emosi, serta bijaksana ketika menyelesaikan perbedaan pendapat.

“Jangan sampai kita sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa memperbaiki kekurangan diri sendiri. Ketika hati kita bersih, insyaallah perkataan menjadi lebih terjaga, perilaku semakin baik, dan hubungan dengan keluarga maupun tetangga menjadi lebih harmonis,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi pengajian tersebut.

Melalui kegiatan pengajian MT Assakinah Jlagran RW 02 ini, diharapkan para jamaah semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan hati sebagai bagian dari upaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Pengajian tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa membersihkan hati merupakan proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama, nilai-nilai Islam diharapkan semakin nyata dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Hati yang bersih melahirkan akhlak yang baik. Dari hati yang terjaga, tumbuh keluarga yang harmonis dan masyarakat yang rukun.

Leave a Reply