Berita

Penyuluh KUA Gedongtengen Rawat Tradisi Selamatan Puputan Bayi di Jlagran

Yogyakarta (KUA Gedongtengen) — Tradisi selamatan puputan bayi masih terus dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat Jlagran RW 05, Pringgokusuman, Gedongtengen. Dalam kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 24 September 2026, Penyuluh Agama Islam KUA Gedongtengen, Asrofi, turut hadir memberikan tausiyah keagamaan kepada keluarga dan masyarakat yang mengikuti selamatan.

Selamatan puputan merupakan salah satu tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran dan kesehatan seorang bayi. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus memanjatkan doa agar sang anak tumbuh sehat, mendapatkan keberkahan, serta menjadi anak yang saleh atau salehah.

Dalam kesempatan tersebut, Asrofi mengusung tema “Empat Kewajiban Orang Tua terhadap Anak.” Ia mengingatkan bahwa kelahiran seorang anak bukan hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga amanah dan tanggung jawab besar bagi kedua orang tua.

Menurut Asrofi, setidaknya terdapat empat kewajiban penting orang tua terhadap anak, yaitu memberikan nama yang baik, memberikan pendidikan dan pengajaran agama, memenuhi kebutuhan serta merawat anak dengan penuh kasih sayang, dan memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak adalah amanah dari Allah. Orang tua bukan hanya berkewajiban memberikan makan dan kebutuhan materi, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk akhlak, memberikan pendidikan agama, serta menjadi teladan yang baik bagi anak,” pesan Asrofi.

Ia juga mengajak para orang tua untuk menjadikan rumah sebagai tempat pendidikan pertama bagi anak. Nilai-nilai kejujuran, kesopanan, kasih sayang, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah perlu ditanamkan sejak usia dini melalui contoh nyata dalam kehidupan keluarga.

Kegiatan selamatan puputan tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Doa bersama menjadi bagian penting sebagai bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar bayi yang baru lahir senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT dan kelak tumbuh menjadi generasi yang sehat, berakhlak mulia, serta bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.

Keikutsertaan penyuluh agama dalam kegiatan tradisi masyarakat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar KUA Gedongtengen untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam layanan keagamaan formal, tetapi juga dalam merawat kearifan lokal yang memiliki nilai sosial dan spiritual.

Melalui pendekatan dakwah yang menyatu dengan budaya masyarakat, tradisi selamatan puputan diharapkan tetap lestari sekaligus menjadi sarana memperkuat pemahaman keagamaan dan kesadaran orang tua dalam menjalankan amanah mendidik generasi penerus.[sams]

Leave a Reply