Berita

Penghulu KUA Mantrijeron Bekali Mempelai dengan Falsafah Kehidupan

YOGYAKARTA – Prosesi akad nikah pasangan Rizky Afanda Putra dan Elisabeth Noviana Veriani berlangsung khidmat dan penuh makna pada Ahad di Dukuh MJ 1/1323, Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta. Tidak sekadar menjadi momen pengikatan janji suci, akad nikah tersebut juga menjadi ruang perenungan mendalam melalui khutbah nikah yang disampaikan oleh Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I.

Bertindak sebagai Wali Hakim sekaligus penghulu, Mu’inan menyampaikan khutbah nikah dengan pendekatan yang berbeda. Ia mengawali nasihat pernikahan dengan mengutip bait-bait puisi karya pujangga legendaris Ibnu Abdi Rabbih yang sarat hikmah dan relevan dengan kehidupan rumah tangga.

Di hadapan kedua mempelai dan para tamu undangan, Mu’inan membacakan bait:

“Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini hanyalah keindahan sebuah pohon yang rindang. Jika salah satu sisinya menghijau (subur), sisi lainnya akan mengering.”

Menurutnya, bait tersebut mengajarkan tentang hukum keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam rumah tangga. Tidak ada pernikahan yang sempurna tanpa ujian dan dinamika. Pada satu masa, salah satu aspek kehidupan keluarga dapat berkembang dengan baik, sementara aspek lainnya membutuhkan perhatian lebih.

“Rumah tangga yang bahagia bukan karena seluruh sisinya selalu sempurna. Kebahagiaan hadir ketika suami dan istri bersedia saling menguatkan, menyiram sisi yang kering, serta mensyukuri sisi yang sedang menghijau,” ujar Mu’inan dalam nasihatnya.

Khutbah kemudian dilanjutkan dengan bait kedua yang mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam ekspektasi yang berlebihan terhadap kehidupan dunia, termasuk dalam membangun rumah tangga.

“Dialah sebuah negeri di mana harapan-harapan tidak lain hanyalah kekecewaan yang mengejutkan, dan kelezatan-kelezatan di dalamnya tidak lain adalah musibah.”

Melalui penjelasannya, Mu’inan mengajak pasangan pengantin untuk memahami bahwa suami dan istri adalah manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pernikahan tidak dibangun di atas tuntutan kesempurnaan, melainkan di atas sikap saling menerima, memaklumi, dan bertumbuh bersama.

Ia juga mengingatkan bahwa berbagai kenikmatan duniawi seperti harta, popularitas, maupun kehadiran anak dapat menjadi ujian apabila tidak disertai rasa syukur dan penguatan nilai-nilai keimanan. Oleh karena itu, pasangan suami istri perlu menjaga komunikasi, kesabaran, dan ketulusan dalam menjalani kehidupan bersama.

Menutup khutbahnya, Mu’inan berpesan agar Rizky dan Elisabeth senantiasa menapaki kehidupan rumah tangga dengan sikap rendah hati. Keduanya diharapkan tidak terlena saat berada dalam masa-masa bahagia dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi berbagai ujian.

Dengan selesainya prosesi akad nikah, Rizky Afanda Putra dan Elisabeth Noviana Veriani resmi memulai babak baru kehidupan mereka sebagai pasangan suami istri. Bekal nasihat yang disampaikan dalam khutbah nikah tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa pernikahan adalah perjalanan panjang untuk saling mencintai, mensyukuri kelebihan pasangan, serta bersama-sama memperbaiki kekurangan dalam bingkai ibadah kepada Allah SWT. (m.uin.an)