Navigasi “Gol Cepat” di GSM, Penghulu KUA Mantrijeron Kaitkan Filosofi Sepak Bola dengan Kehidupan Rumah Tangga

Yogyakarta (KUA Mantrijeron) – Prosesi akad nikah pasangan Muhamad Fredyansah dan Khonsa Nur Arsetya di Gedung Serbaguna Mantrijeron (GSM), Yogyakarta, pada Ahad (19/7/2026), berlangsung khidmat sekaligus sarat makna. Bertindak sebagai penghulu, Penghulu KUA Kemantren Mantrijeron Mu’inan, S.H.I., M.S.I., menyampaikan khutbah nikah dengan pendekatan yang unik melalui filosofi sepak bola sebagai gambaran perjalanan kehidupan rumah tangga.
Dalam nasihatnya, Mu’inan mengingatkan kedua mempelai agar tidak cepat merasa puas apabila sejak awal pernikahan dianugerahi kemudahan, terutama dalam urusan ekonomi. Menurutnya, keberhasilan di awal kehidupan rumah tangga ibarat sebuah tim yang mampu mencetak gol cepat dalam pertandingan sepak bola. Kondisi tersebut bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari ujian untuk menjaga konsistensi.
“Mempelai berdua yang berbahagia, jangan dikira tendangan pertama yang langsung membuahkan gol berupa kemudahan ekonomi adalah tanda pertandingan sudah selesai. Allah SWT sedang menguji kalian bukan dengan kekalahan, melainkan dengan ‘kemenangan awal’. Apakah dengan ‘gol cepat’ ini kalian semakin dekat dengan-Nya dengan cara tetap bersyukur dan semangat beribadah, atau justru membuat kalian lalai dan mengendurkan pertahanan iman?” tutur Mu’inan.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan rumah tangga merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteguhan iman, dan kemampuan menjaga keseimbangan. Kelapangan rezeki di awal pernikahan merupakan salah satu bentuk ujian sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Anbiya ayat 35 yang menegaskan bahwa manusia akan diuji dengan keburukan maupun kebaikan.
Mu’inan kemudian mengibaratkan pasangan muda seperti tim sepak bola yang unggul lebih dahulu, tetapi akhirnya kehilangan fokus karena terlalu percaya diri (overconfidence) sehingga lawan mampu melakukan comeback. Analogi tersebut menjadi pengingat agar pasangan suami istri tidak lengah ketika memperoleh berbagai kemudahan hidup.
Ia juga mengutip Surah Al-An’am ayat 44 sebagai peringatan agar nikmat yang diberikan Allah tidak berubah menjadi istidraj, yakni kondisi ketika seseorang terlena oleh kesenangan dunia hingga menjauh dari ketaatan kepada-Nya.
“Jangan sampai kemudahan rezeki di awal pernikahan menjadi istidraj, sebuah jebakan kelalaian. Ketika pintu dunia dibukakan lebar, jangan berhenti mengejar rida Allah,” pesannya.
Sebagai penutup khutbah nikah, Mu’inan mengajak kedua mempelai untuk menjaga “ritme permainan” rumah tangga dengan memperbanyak rasa syukur, sebagaimana janji Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7 bahwa nikmat akan ditambah bagi hamba yang bersyukur. Menurutnya, cara mempertahankan keunggulan gol cepat bukanlah dengan berfoya-foya atau berbangga diri, melainkan dengan memanfaatkan rezeki untuk nafkah yang halal, memperbanyak sedekah, dan saling membahagiakan dalam bingkai keluarga sakinah.
Prosesi akad nikah berlangsung lancar, penuh kekhidmatan, dan diakhiri dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh keluarga serta para tamu undangan. Melalui nasihat tersebut, KUA Kemantren Mantrijeron terus berupaya menghadirkan bimbingan perkawinan yang kontekstual dan mudah dipahami masyarakat, sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga secara nyata. (m.uin@n)



