Berita

Menganyam Bahagia Tanpa Bentangan Jarak: Pesan Filosofis Penghulu KUA Mantrijeron di The Alana Hotel Malioboro Yogyakarta

YOGYAKARTA — Pernikahan bukanlah sekadar muara dari bertemunya dua insan di bawah satu atap, melainkan titik awal pengembaraan panjang melintasi samudra kehidupan. Di tengah riuh rendah dunia, setiap jiwa pada hakikatnya merindukan satu pelabuhan utama: ketenangan yang bermuara pada kebahagiaan sejati.

Pesan penuh hikmah tersebut mengalun syahdu dalam prosesi ijab kabul antara Andhika Rachmad Baharijanto dan Inoviana Olivia yang berlangsung di The Alana Hotel Malioboro, Mantrijeron, Yogyakarta, pada Ahad (26/7/2026).

Dalam prosesi tersebut, Penghulu KUA Mantrijeron, Mu’inan, S.H.I., M.S.I., menyampaikan petuah pernikahan yang mendalam dengan membedah rahasia kebahagiaan berdasarkan hadis Rasulullah SAW riwayat Ad-Dailami. Beliau menegaskan bahwa salah satu pilar utama kebahagiaan hidup—di samping memiliki pasangan yang saleh/salehah, anak-anak yang berbakti, serta lingkungan yang baik—adalah dikaruniai rezeki di tempat tinggal sendiri.

Dalam nasihatnya, Mu’inan menekankan filosofi utama terkait pentingnya ruang dan waktu bagi pasangan suami istri:
• Rezeki yang Tidak “Mencuri” Kehadiran: Rezeki sejati tidak hanya diukur dari besarnya nominal materi yang dibawa pulang. Keberkahan rezeki justru terlihat dari sejauh mana pekerjaan memberi ruang bagi suami dan istri untuk hadir secara utuh. Harta melimpah menjadi kurang bermakna jika harus dibayar mahal dengan kehilangan momen berharga bersama keluarga.
• Kedekatan Fisik Perekat Sakinah: Kebersamaan fisik setiap hari menjadi modal utama merawat sakinah, mawaddah, wa rahmah. Berjumpa saban hari memungkinkan pasangan menyapa lelah, menatap mata, dan menyembuhkan selisih paham kecil sebelum malam berlarut. Dari kehangatan harian ini akan lahir secara alamiah kedamaian yang berdampak positif pada karakter anak dan lingkungan sekitar.
• Rumah sebagai Surga Kecil: Rezeki yang dekat dengan tempat tinggal menjadikan kepulangan harian sebagai momen yang paling dinanti. Pasangan tak perlu menanggung beban rindu akibat bentangan jarak, menjadikan rumah (baiti jannati) sebagai tempat berlabuh dari lelahnya dunia sebelum meraih surga abadi, ujar Mu’inan dengan penuh meyakinkan.
Intensitas dan volume kebersamaan fisik secara langsung merupakan pilar vital dalam menjaga ketahanan rumah tangga. Ketika pasangan dapat berinteraksi secara rutin tanpa terhalang jarak, komunikasi intuitif dan ikatan emosional akan terbangun jauh lebih kuat. Kedekatan harian ini memudahkan penyelesaian konflik secara cepat, mencegah keretakan akibat jarak, serta menghadirkan rasa aman (sakinah) yang menjadi fondasi utama dalam mendidik anak dan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis.

Rangkaian nasihat pernikahan tersebut ditutup dengan doa tulus yang dipanjatkan bersama seluruh hadirin untuk kedua mempelai. Teriring harapan dan doa menyertai langkah awal Andhika dan Inoviana:
“Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan, membukakan pintu-pintu rezeki yang melimpah dan halal di dekat tempat tinggal mereka, serta menjaga ikatan suci ini agar senantiasa dipenuhi kehangatan tanpa terhalang oleh bentangan jarak. Semoga rezeki yang dihamparkan-Nya menjadi sarana untuk mendekatkan, bukan memisahkan—menjadikan setiap senja sebagai momentum kepulangan yang dinanti, serta membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah hingga ke jannah-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.” (m.uin.@n)