MAN 1 Yogyakarta Gelar Studium Generale Bahas Akhlak di Tengah Modernisasi
Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta menggelar Studium Generale bertajuk “Akhlak di Tengah Modernisasi: Ikhtiar MAN PK Yogyakarta Menyongsong Masa Depan” pada Kamis (15/1/2026) siang. Kegiatan yang berlangsung di aula MAN 1 Yogyakarta tersebut diikuti para kepala Madrasah Tsanawiyah negeri dan swasta se-Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hadir sebagai narasumber utama, Kepala Subdirektorat Pendidikan Vokasi dan Inklusi Kementerian Agama Republik Indonesia, Dr. H. Anis Masykur, M.A. Dalam paparannya, Anis menekankan pentingnya penguatan akhlak dan pola pikir murid madrasah agar mampu menjawab tantangan abad ke-21 di tengah arus modernisasi yang kian pesat.
Acara ini turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DIY Sidik Pramono, S.Ag., M.Si., Sub Koordinator Kurikulum dan Kesiswaan Kanwil Kemenag DIY Anita Isdarmini, S.Pd., M.Hum., Katim 3 Bidang Dikmad Kanwil Kemenag DIY Abd Na’im, S.Ag., serta Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Yogyakarta Elfa Tsuroyya, S.Ag., M.Pd.I., M.Pd.
Dalam pemaparannya, Anis yang juga merupakan alumni MAN Program Keagamaan (PK) mengulas gagasan Howard Gardner dalam buku The Five Minds of the Future. Menurut Gardner, terdapat lima jenis pola pikir yang dibutuhkan manusia untuk menghadapi tantangan globalisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Kelima pola pikir tersebut meliputi The Disciplined Mind, The Synthesizing Mind, The Creating Mind, The Respectful Mind, dan The Ethical Mind. Anis menegaskan, kelima mindset tersebut sejatinya telah menjadi bagian dari nilai dan tradisi pendidikan madrasah.
“Kelima pola pikir itu ada di madrasah. Karena itu, proses pendidikan di madrasah harus benar-benar mencerminkan lima hal tersebut,” ujar Anis.
Namun demikian, ia menyoroti masih lemahnya penguatan aspek synthesizing mind dalam praktik pembelajaran. Menurutnya, proses pendidikan di madrasah masih kerap terjebak pada buku-buku tebal dan hafalan teori, tanpa diiringi pemahaman tujuan belajar dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari.
“Murid sering kali tidak memahami untuk apa mereka belajar dan bagaimana ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan nyata,” katanya.
Setelah sesi studium generale, kegiatan dilanjutkan dengan Sosialisasi Seleksi Nasional Berbasis Madrasah Negeri (SNMB) MAN PK MAN 1 Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya penguatan layanan pendidikan dan rekrutmen murid unggulan madrasah. (dee)



