MAN 1 Yogyakarta Gelar Pendalaman Materi dan Praktik Perawatan Jenazah

Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — MAN 1 Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan pendalaman materi dan praktik perawatan jenazah pada Kamis (29/10/2026). Kegiatan ini bertujuan membekali murid dengan pemahaman keagamaan dan keterampilan praktis dalam melaksanakan kewajiban fardu kifayah terhadap sesama muslim yang meninggal dunia.
Rangkaian kegiatan dimulai pukul 06.50 WIB dengan pembiasaan pagi dan pengondisian peserta di Aula Lantai 2. Pada pukul 07.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan, sambutan Kepala Madrasah, serta penyampaian teknis kegiatan oleh Kepala Unit Keagamaan dan Kepesantrenan.
Memasuki pukul 08.00 WIB, murid putra diarahkan menuju Masjid Al-Hakim lantai dua, sedangkan murid putri tetap berada di aula untuk mengikuti persiapan materi. Sesi pendalaman materi berlangsung pukul 08.15–10.00 WIB, dilanjutkan praktik perawatan jenazah pada pukul 10.00–12.00 WIB di masjid dan aula.
Kegiatan ini menghadirkan dua praktisi perawatan jenazah, yaitu Jasimin, yang bertugas dalam pelayanan perawatan jenazah PKU Yogyakarta dan Husnul Khatimah, serta Puji Mardani Wati, yang bertugas dalam pelayanan perawatan jenazah PKU Gamping dan Husnul Khatimah. Keduanya berdomisili di Jatisawit, Balecatur, Gamping, Sleman.
Dalam sambutannya, Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, mengajak murid menjadikan pembelajaran perawatan jenazah sebagai momentum untuk merefleksikan makna kehidupan dan kematian. Kematian merupakan kepastian yang mengingatkan manusia agar menggunakan waktu hidupnya untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Pemahaman tentang perawatan jenazah, menurut pesan yang ditekankan dalam kegiatan ini, tidak cukup berhenti pada pengetahuan teoritis. Murid perlu memahami tata cara yang benar sekaligus memiliki keterampilan untuk mempraktikkannya. Sebab, mengurus jenazah bukan sekadar rangkaian prosedur keagamaan, melainkan juga bentuk penghormatan terakhir kepada manusia dan tanggung jawab sosial umat Islam.
Pada sesi praktik, murid dibimbing untuk mempraktikkan tata cara mengafani dan menyalatkan jenazah. Penilaian dilakukan secara berkelompok dengan memperhatikan ketepatan pelaksanaan, keterampilan, serta sikap selama praktik berlangsung.
Dalam praktik mengafani jenazah, aspek yang dinilai meliputi persiapan alat dan bahan, ketepatan urutan serta tata cara, keterampilan dan kerapian, pembagian tugas dan kerja sama anggota, serta ketertiban dan adab selama praktik.
Sementara itu, praktik menyalatkan jenazah dinilai berdasarkan ketepatan posisi imam dan makmum, urutan empat takbir beserta bacaannya, ketepatan doa dan salam, kekompakan serta ketertiban pelaksanaan salat, dan pembagian peran serta tanggung jawab anggota kelompok.
Hasil penilaian diberikan dalam predikat A (Sangat Baik), B (Baik), C (Cukup), dan D (Kurang). Predikat tersebut menggambarkan kemampuan kelompok dalam melaksanakan tahapan praktik secara benar, tertib, terampil, dan kompak, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan murid.
Melalui kegiatan ini, MAN 1 Yogyakarta berupaya menghadirkan pembelajaran agama yang kontekstual dan aplikatif. Murid diharapkan tidak hanya memahami ajaran Islam secara konseptual, tetapi juga siap mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat. (ha)



